Senin, 18 Oktober 2010

Gerakan Sholat Bermanfaat Untuk Kesehatan Tubuh

eramuslim - Sholat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti,
tapi juga gerakan-gerakan salat adalah yang paling proporsional bagi anatomi
tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, sholat adalah gudang obat dari berbagai
jenis penyakit. Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan
oleh ciptaannya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai
ketakwaan, tapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri.
Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya
oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa
untuk kesehatan diri dan pasien mereka. Begitu pula dengan sholat, merupakan
ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakangerakan
di dalam salat pun mempunyai manfaat masingmasing.
Misalnya:
Takbiratul Ihram:, berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu
melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Manfaat: Gerakan ini
melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi
jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh.
Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya
oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau
dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan
persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku':, Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila
diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala
lurus dengan tulang belakang. Manfaat, Postur ini menjaga kesempurnaan posisi
dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan
pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada
tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otototot
bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah
gangguan prostat.
I'tidal:, Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan
setinggi telinga. Manfaat: i'tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum
sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang
baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan
pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.
Sujud:, Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi
pada lantai. Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak.
Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir
maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu,
lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi
kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi
wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan
kesehatan organ kewanitaan.
Duduk:,Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat
akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. Manfaatnya, saat iftirosy, kita
bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius.
Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan
penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab
tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan
saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi.
Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot
tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis
inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam:, Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaatnya untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran
darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan
kulit wajah.
Gerakan sujud dalam sholat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia
menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya
sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan
tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini
mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih
untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di
atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak
mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan
kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.
Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi
secara normal. Bahwa darah tidak akan memasuki urat syaraf di dalam otak
tersebut melainkan ketika seseorang bersembahyang yakni ketika sujud. Urat
tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah
akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti kadar salat waktu yang diwajibkan
oleh Islam.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang
dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam
setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan
sujud. Di samping itu, gerakangerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan
(stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah.
Keunggulan sholat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan
anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud,
beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat
inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan
wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga
memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya. Masih dalam posisi sujud, manfaat
lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui
kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis
externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk
mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam
persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang
mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka
secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat
mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya
kembali (fiksasi).
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam sholat ada dua macam sikap duduk,
yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang
terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita,
inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang
persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat duduk
tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus
diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal
paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah
perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah
perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan sholat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh
lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin,
maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung
lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar. Yang menarik, menurut penelitian Prof. Dr.
Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul "Pengaruh Sholat Tahajjud
terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahan Tubuh Imonologik: Suatu
Pendekatan Siko Neuroimunologi" dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar
doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas
Surabaya yang dipertahannkanya beberapa waktu lalu.
Salat tahajud ternyata bukan hanya sekadar salat tambahan (sunnah muakkad)
tapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker.
Secara medis sholat ini menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonolagi)
khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfositnya yang berupa persepsi dan
motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk
menanggulanggi masalah yang dihadapi. Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya
sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan
dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri
dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.
Parameternya, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah
kotrisol pada pagi hari normalnya anatra 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam
hari atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah
hormon kotrisolnya normal, bisa didindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.
Bergitu sebaliknya, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah
paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma
atau doktrin.
Menurut DR. Sholeh. Orang stes itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker
dan infkesi. Dengan tahajjud yang dialakukan secara rutin dan disertai perasaan
ihklas serata tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik yang
kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan,
berdasarkan hitungan teknik medis menunjukkan, salat tahajjud yang dilakukan
seperti itu membuat orang mempunyai ketahan tubuh yang baik. (to/berbagai
sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar