Senin, 18 Oktober 2010

Bila Penderita maag Harus Berpuasa

eramuslim - Setiap menghadapi bulan Ramadhan, sakit maag kerap dijadikan
alasan untuk tidak berpuasa akibat rasa sakit yang suka muncul saat menahan
lapar selama puasa. Benarkah penderita maag tidak boleh berpuasa? Mungkin
orang yang belum banyak yang menyadari, selain bermakna ibadah, puasa juga
memiliki manfaat yang nyata terhadap kesehatan. Termasuk memberikan manfaat
positif bagi mereka yang mengalami gangguan maag.
Mag adalah penyakit pada alat pencernaan, baik lambung maupun usus yang
ditandai dengan rasa tidak nyaman, sakit di ulu hati, mual, dan kembung. Bahkan
dalam beberapa kasus penyakit ini ditandai dengan sakit di bagian perut hingga
menusuk tulang belakang. Sebenarnya, penyakit maag itu terbagi menjadi dua
yaitu dispepsia organik dan non organik. Dispepsia organik adalah penyakit mag
yang sudah parah seperti tukak lambung, sementara non organik adalah penyakit
maag yang ditandai dengan kelainan minimal seperti kemerahan pada alat
pencernaan. Dispepsia non organik ini biasanya disebabkan oleh stres, makanan
pedas, alkohol dan merokok. Biasanya gejala yang timbul itu hanya mual, eneg,
atau perut terasa penuh. Ketika berpuasa otomatis rokok, alkohol dan makanan
tersebut tidak masuk ke dalam tubuh sehingga keluhan tadi akan hilang. Ini
cenderung terjadi pada mereka yang mengalami dispepsia non organik.
Sebaliknya, penderita dispepsia organik tidak dianjurkan untuk berpuasa, meski
tubuh akan beradaptasi setelah 3 sampai 5 hari, akan tetapi lambung akan tetap
kosong. Saat itulah pengeluaran asam lambung dan gas akan meningkat yang
notabene menjadi pemicu munculnya penyakit maag. Meski hal ini tidak
berlangsung terus menerus akan tetapi puasa bagi penderita dispepsia non organik
yang tidak mengonsumsi obat akan membuat mag-nya menjadi jauh lebih parah.
Satu hal yang harus diingat adalah jangan sekali-kali menilai sendiri apakah mag
yang diderita parah atau tidak. Karena berangkat dan kenyataan bahwa setiap
orang memiliki tingkat kepekaannya sendiri-sendiri. Misalnya ada yang merasakan
sakit yang amat sangat pada lambungnya padahal dia hanya kemerahan sedikit,
sebaliknya ada juga yang tidak merasakan apa-apa padahal kondisi lambungnya
sudah demikian parah.
Satu-satunya cara untuk melihat kelainan pada pencernaan adalah dengan
endoskopi (meneropong saluran pencernaan). Dari pemeriksaan inilah baru
kemudian diketahui apakah alat pencernaan mengalami luka atau tidak. Bagi
mereka yang menderita dispepsia non organik, obat yang dijual bebas di pasaran
dan berbagai merek dan harga bisa digunakan untuk mencegah keluhan mag
timbul saat menjalani puasa. Karena obat bebas yang umumnya golongan
antasida ini dapat melapisi lambung sehingga menetralisir asam lambung yang
over produksi. Tak heran penjualan obat jenis ini marak selama bulan puasa.
Untuk itu, bagi yang berpuasa dianjurkan untuk mengonsumsi obat-obat tersebut
setengah jam setelah makan agar perut tidak terasa kembung. Untuk waktu minum
obat sendiri, sebaiknya dilakukan pada saat sahur, berbuka puasa dan malam
sebelum tidur. Bagi mereka yang menderita dispepsia non organik cara ini
dianggap cukup efektif untuk menghindari keluhan mag. Tapi bagi yang menderita
dispepsia onganik, pengobatannya tidaklah semudah itu. Obat yang dianjurkan
adalah obat anti-asam yang mampu menekan produksi asam lambung hingga 12
sampai 24 jam. Akan tetapi, obat ini hanya didapat dengan resep dokter.
Perlu diketahui penyakit maag, dikenal tahap pengobatan yang disesuaikan
dengan Konsensus AsiaPasifik atau Konsensus Nasional tentang Tata Laksana
Penyakit Mag atau Dispepsia. Menurut konsensus nasional, penanganan pertama
bagi penyakit mag adalah dengan konservatif empiris terapi atau tenapi
percobaan selama 4 sampai 6 minggu yang bisa dilakukan oleh siapa saja baik itu
dokter umum maupun Puskesmas. Kalau setelah terapi percobaan itu kondisi pasien
membaik, berarti pengobatan berhenti sampai di situ. Tapi kalau tidak maka
dilakukan rujukan untuk melakukan endoskopi pada dokter spesialis untuk bisa
diketahui jenis penyakit mag yang diderita, mulai dari gastritis, tukak lambung, polip
sampai tumor. Dari sini diketahui jenis obat mana yang cocok untuk dikonsumsi.
Ada tiga golongan obat yaitu Antasida yang dijual bebas di pasaran, kemudian
golongan menengah - diantaranya simitidin, ranitidine, famotidin - dan terakhir
golongan PPI (Pomp Proton Inhibitor). Namun, jika penyakit lambung sudah kronis
seperti tukak, menggunakan antasida juga tidak akan sembuh. Karena antasida
hanya menghilangkan keluhan bukan menyembuhkan. Untuk kasus tukak bisa
disembuhkan dengan dua macam antibiotika plus satu PPI. Peluang
kesembuhannya pun cukup tinggi, antara 80 - 90 persen. Kalau obat jenis antasida
ini dipakai untuk penyakit lambung yang kronis, kondisinya akan lebih parah bisa
bleeding atau malah jadi borok.
Mengingat betapa riskannya penyakit maag, kontrol don kesadaran diri sendiri
untuk mengatur pola makan menjadi sangat penting. Untuk itu, perhatikan dengan
saksama hal yang harus dilakukan atau dihindari bagi penderita maag selama
puasa:
a. Dianjurkan untuk makan makanan yang manis sebagai sumber energi terutama
waktu berbuka, karena selama puasa kadar gula menjadi turun.
b. Hindari makanan/minuman yang merangsang pengeluaran asam lambung
seperti kopi, susu, dan minuman bersoda. Untuk makanan hindari makanan
berlemak, sayuran seperti sawi dan kol, nangka, kedondong atau buah yang
dikeringkan.
c. Jangan makan makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah antara
lain cokelat, makanan yang tinggi lemak dan gorengan. Beberapa sumber
karbohidrat seperti beras ketan, mi, bihun, dan jagung pun sebaiknya dihindari.
d. Meski puasa olahraga atau latihan fisik harus tetap dijalankan, tapi harus sesuai
dengan kondisi tubuh. Olahraga yang teratur selain membuat tubuh menjadi
bugar, stres yang menjadi pemicu sakit mag pun bisa hilang.
e. Jangan langsung tidur setelah sahur agar asam lambung tidak langsung naik ke
kerongkongan. Makanan dalam lambung akan lancar turun ke dalam organ
pencernaan lain kalau tubuh berada dalam posisi tegak, tapi dalam posisi tidur
makanan akan sulit turun dan dikhawatirkan asam lambung yang naik akan
menyebabkan iritasi pada pasien.(to/snr)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar