Selasa, 19 Oktober 2010

Galakkan Pembudidayaan, Dishut Gandeng LIPI Bogor

Gaharu Terbaik Ada di Malinau

 




MALINAU—Upaya pemerintah untuhttp://www.biologi.lipi.go.id/k mengembalikan masa keemasan gaharu di Malinau makin serius. Keseriusan ini dibuktikan dengan kerja sama yang dilakukan Dinas Kehutanan (Dishut) Malinau dengan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor dalam upaya menggalakkan budidaya gaharu.

Rabu (13/10) kemarin, yang mulai dilakukan adalah pelatihan budidaya gaharu bersama para petani gaharu se-Malinau yang digeber di Balai Adat Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara. Kegiatan yang dibuka Kadishut Gerard A Silooy itu diikuti 24 petani yang berasal 6 wilayah kecamatan meliputi Malinau Kota, Malinau Utara, Malinau Barat, dan Mentarang, Mentarang Hulu dan Malinau Selatan.

Dijelaskan Gerard Silooy, proyek budi daya gaharu merupakan program jangka panjang pemerintah dalam memberdayakan potensi daerah agar mendatangkan faedah bagi masyarakat. Saat ini, terang Silooy, sedikitnya 71.000 jenis gaharu telah tertanam dan tumbuh di berbagai kawasan di Malinau.

Sebagai kabupaten konservasi, lanjut dia, pemerintah dan masyarakat Malinau dituntut arif dalam menjaga dan melestarikan hutan. Dinas Kehutanan sendiri, bertanggung jawab untuk mempertahankan kelestarian dan konservasi hutan sebanyak 14 persen dari luas hutan yang ada di daerah. Lewat program budidaya gaharu masyarakat, diharapkan selama ini sudah berjuang mempertahankan kelestarian hutan mendapatkan “imbalan” untuk kesejahteraan mereka.

Ketua Tim Penelitian Gaharu LIPI Bogor Albert Husein Wawo, menegaskan pernyataan serupa. Malinau, kata dia, merupakan kawasan emasnya gaharu terbaik di Indonesia. Budidaya gaharu bagi masyarakat dinilainya sangat penting dilakukan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan hidup mereka di masa yang akan datang.

Budidaya diperlukan sebab akibat eksporasi gaharu oleh masyarakat luar saat ini telah menyebabkan gaharu sulit diperoleh. Apalagi seperti pernah diberitakan media ini, yang terjadi di kawasan hutan Tamana Nasiona Kayan Mentarang (TNKM), para pendatang mengambil gaharu tanpa pandang bulu.

Menurut Albert, pelatihan ini dilakukan terpadu, mulai dari pengenalan dan pemahaman dasar budidaya gaharu (perkebunan) sampai dengan penyuntikan. Yaitu cara pembentukan gubal pada pohon gaharu yang dilakukan melalui bantuan tangan manusia alias nonalami. Menurutnya, penelitian telah membuktikan cara tersebut bisa dilakukan dan mendatangkan hasil.

“Inilah yang sedang kami lakukan di Malinau. Prosesnya sudah berjalan setahun yang lalu. Kita yang melakukan dan nantinya, hasil penelitian itu akan diajarkan pada masyarakat,” terangnya.


Artikel ini ditulis oleh Ida : KaltimPost.co.id, Kamis, 14 Oktober 2010
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 18 Oktober 2010
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar