Senin, 18 Oktober 2010

Tips Tetap Sehat dan Produktif di Kantor

eramuslim - Apakah tata letak dan ruang kerja anda di kantor sudah cukup
nyaman untuk menunjang penyelesaian tugas-tugas rutin anda? Bila tidak, berhatihatilah,
karena anda bisa terserang 'Repetitive Strain Injury'.
Bukan cuma 'sick building syndrome' yang sering menimpa para pekerja kantor di
gedunggedung yang tertutup rapat. Risiko-risiko lain pun mengintip kesehatan
mereka. Sakit punggung, encok, mata pedih, pergelangan tangan ngilu,
kesemutan, otot kaku, dan sebagainya. Selain gara-gara kebiasaan salah yang
dilakukan berulang-ulang, kemungkinan juga sarana pendukung pekerjaan atau
perangkat kerja yang kurang tepat.
Meski bukan tipe pemanja yang mudah mengeluh, sekali-sekali anda tentu pernah
merasakan tidak enak badan. Sakit punggung, mata pedih dan terus menerus
mengeluarkan air mata. Merasakan seluruh otot dan urat badan kaku dan
mengencang, sakit atau merasa tidak nyaman. Tangan, pergelangan tangan, jari,
lengan dan siku terasa sakit seperti terbakar.
Adakalanya tangan perih, dingin, ataupun kebas (kesemutan), dan kehilangan
kekuatan dan koordinasi. Ketika terjaga tengah malam, badan satu sakit semua
disertai pegal-pegal. Ingin rasanya segera memijat tangan, pergelangan, dan
lengan.
Kalau muncul gejala sakit seperti itu, jangan anggap remeh. Coba dengarkan
keluhan punggung anda, juga keluhan bagian tubuh lainnya. Siapa tahu
punggung anda memang sedang mengalami masalah? Atau, barangkali anda
terserang 'Repetitive Strain Injury' (RSI). Biang keladinya, karena gerakan fisik yang
salah berulang-ulang dan terus menerus dalam jangka panjang. Misalnya, selama
bekerja di kantor. Akibatnya terjadi kerusakan urat, otot, saraf, dan jaringan lunak
lain.
Kegiatan yang selalu melibatkan keyboard dan mouse ini dapat menimbulkan
cedera urat tangan, lengan dan bahu. Bisa dibayangkan, berapa ribu kali jari-jari
tangan mengulang gerakan memukul tuts keyboard ketika sedang mengetik,
misalnya. Apalagi tangan sambil mencengkeram dan menggeser-geser mouse.
Lambat laun, tanpa disadari bisa terjadi akumulasi kerusakan pada badan secara
keseluruhan.
Sesungguhnya semua risiko yang dialami para pekerja kantoran bukan sematamata
faktor kecerobohan - misal kurang memperhatikan posisi duduk yang benar.
Namun bisa jadi disebabkan sarana kerja (meja kursi, komputer, lampu penerang
ruangan) kurang mendukung kenyamanan dan kesehatan. Sebutlah, sakit
pinggang jangan-jangan karena tempat duduknya tidak memberi kenyamanan
tulang belakang. Atau, penataan perangkat komputer yang kurang tepat.
Apalagi seharian (setidaknya delapan jam sehari - itu kalau tidak lembur) hanya
duduk, sementara indera penglihatan terus melototi layar komputer dan jari-jari
tangan sibuk memencet tuts keyboard. Karenanya sarana penunjang kerja perlu
mendapat perhatian, tidak saja dari segi keselamatan, tapi juga kenyamanan dan
kesehatan.
Perlu dicatat, saat mengetik ambil posisi duduk tegak, tidak bersikap loyo atau lesu.
Untuk urusan ini, sekarang sudah banyak dipasarkan model kursi ergonomis yang
gampang disetel sandarannya sehingga menawarkan kenyamanan. Sikap duduk
yang benar dan model kursi yang tepat membantu mengatasi masalah ini. Soalnya
keluhan pada punggung umumnya berkaitan dengan otot tulang belakang. Yang
artinya ada faktor ergonomi berperan dalam sindrom itu.
Duduk bisa mengurangi rasa penat, memang benar. Tetapi kalau dilakukan dalam
jangka waktu lama dan posisi statis, justru bisa menimbulkan gangguan pada leher,
bahu, punggung, dan lengan. Alias RSI itu tadi.
Kenapa bisa begitu? Karena pada sikap kerja statis terjadi kontraksi otot yang kuat
dan lama tanpa cukup kesempatan pemulihan, dan aliran darah ke otot
terhambat. Akibatnya, timbul rasa lelah dan nyeri pada otot tubuh. Yang paling
sering dialami adalah rasa sakit, pegal pada bagian belakang tubuh hingga leher,
yang disebut juga varicose veins. Oleh karena itu, perlu menerapkan duduk dinamis,
yaitu sesering mungkin mengubah posisi pada saat duduk. Gejala RSI atau juga
disebut 'Cumulative Trauma Disorder' bisa terjadi gara-gara posisi tubuh kurang
rileks. Ada tekanan terhadap urat dan saraf tangan, pergelangan tangan, lengan
dan pundak, serta leher. Kurang selingan istirahat ketika mengetik misalnya, apalagi
terlalu terforsir dijamin menimbulkan risiko kesehatan.
Upaya pencegahannya, pertama-tama posisi tubuh saat duduk dan teknik
mengetik mesti benar. Begitu pula penataan (posisi) sarana kerja harus benar. Tak
ada salahnya memang memilih sarana bekerja yang enak dipakai (ergonomis).
Namun, tetap saja kebiasaan bekerja secara baik dan benar lebih penting sebagai
pencegahan ketimbang harus menyediakan perlengkapan yang ergonomis. Baik
sarana duduk (kursi), keyboard, atau penyangga pergelangan tangan.
Untuk posisi monitor, disarankan lebih rendah dan agak jauh dari posisi mata. Kursi
dan keyboard diatur sedemikian rupa hingga posisi paha dan lengan sejajar (boleh
sedikit menggantung), pergelangan tangan lurus dan sejajar (tidak menekuk ke
bawah atau terlalu jauh ke belakang). Bila memungkinkan, posisi keyboard 2,5 - 5
cm di atas paha. Jika posisi meja terlalu tinggi, sebaiknya keyboard ditaruh di atas
pangkuan.
Pengaruh monitor (video display unit/VDU) terhadap kesehatan mata, masih
menjadi perdebatan. Pemakai VDU pada umumnya mengeluhkan tekanan pada
mata, nyeri otot leher, sakit pundak dan pinggang. Tapi berdasarkan penelitian di
Inggris, tidak ada kerusakan permanen pada mata gara-gara VDU, kecuali nyeri
sementara pada mata.
Keluhan itu pun masih ditentukan oleh tipe pekerjaannya, monoton atau bervariasi,
nonstop atau diselingi istirahat. Keluhan pun akan berkurang bila posisi duduk dan
pencahayaan diperhatikan. Jumlah radiasi gelombang yang diterima pengguna
VDU selama 8 jam/hari sebenarnya hanya 0,5% dari jumlah radiasi yang diterima
dari sumber lain. Kalau masih merasa belum aman tak ada salahnya memasang
kaca penahan radiasi sebagai perisai tambahan.
Selain harus duduk pada posisi tegak, jangan pula meregang ke depan untuk
mencapai keyboard atau membaca tulisan di layar monitor. Keadaan demikian
justru akan menciptakan masalah. Begitu pun posisi tubuh "sempurna" dapat
bermasalah bila dilakukan secara kaku dan terus menerus dalam jangka panjang.
Karenanya disarankan untuk rileks, juga sering-seringlah bergerak dan mengubah
posisi (duduk dinamis).
Ini bukan cuma berlaku untuk tangan dan lengan, tapi juga pundak, punggung,
dan leher. Begitu pula saat mengetik, pergelangan tangan hendaknya tidak
ditekuk ke atas, ke bawah, atau ke samping. Sedikit memutar-mutar tangan bisa
sebagai gantinya istirahat pergelangan tangan. Begitu ada kesempatan berhenti
mengetik sejenak, istirahatkan tangan di atas pangkuan atau di sisi samping anda
ketimbang ditumpangkan di atas keyboard.
Begitu pun ukuran font (huruf) sebaiknya tidak terlalu kecil supaya mudah terbaca.
Sehingga tak perlu membungkukkan badan ke depan monitor setiap kali
membaca teks. Juga melunakkan tekanan pada saraf dan pembuluh darah di
leher dan pundak. Selain ukuran teks dokumen jelas, juga pergunakan warna yang
teduh (abu-abu) dan mudah terbaca oleh mata. Lagi-lagi perbanyak istirahat dan
rileks. Sesuai dengan namanya, fungsi lampu adalah untuk menerangi ruangan.
Selain juga memberikan nuansa dekoratif. Untuk fungsi dekoratif, lantas perlu
memilih lampu yang selaras dengan desain interior. Namun sebagai sarana
penerang, lampu tentu saja harus terang.
Apa pun bentuknya, pilihlah lampu yang cahayanya cukup terang untuk
menerangi hurufhuruf tulisan. Selain itu juga tidak bikin mata silau dan pedih. Untuk
ruang kerja, lazimnya digunakan lampu neon. Selain cahayanya terang, juga bisa
mengirit anggaran. Tapi, omongomong tentang cahaya, pernah ada laporan
(tahun 1996), makin terang cahaya lampu ruangan, makin sering karyawan
mengeluh lesu, lelah, dan sakit kepala.
Untuk mengurangi ketajaman sinar yang memedihkan mata, perlu lampu
tambahan. Manfaat lainnya, cahaya lampu utama bisa tersebar. Sementara
penempatkan lampu tak langsung yang tidak terlalu terang akan mengurangi
ketegangan mata.
Selain kriteria terang, tata letak lampu mesti diperhatikan. Lampu penerang sebuah
gedung perkantoran biasanya sudah terpasang permanen. Kalau demikian
adanya, yang mesti dilakukan ya mengatur posisi meja kerja.
Posisi meja kerja mestinya tidak berada persis di bawah titik lampu. Kenapa? Karena
sinar lampu dari atas langit-langit tepat di atas meja kerja menimbulkan bayangan
pada halaman buku, koran atau majalah yang tengah dibaca. Jadi posisi lampu
demikian tidak tepat untuk membaca. Posisi lampu hendaknya di belakang agak
ke samping, untuk menghindari timbul bayangan pada halaman buku yang
dibaca.
Tata letak AC dalam ruang kantor umumnya sudah menetap. Kalau penghuni
kantor ingin memilih posisi meja kerja yang tak langsung ter-sentor angin AC, ya
mesti mengatur diri. Apalagi bagi yang tak tahan AC, salah-salah justru bisa bikin
badan meriang. Desain interior dan tata ruang boleh menjadi urusan perancang
interior. Tapi soal tata letak meja kerja ya mesti menjadi urusan diri sendiri,
bagaimana baiknya supaya tetap sehat dan produktif! (to/ints)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar