Kamis, 03 Februari 2011

Makrifat kepada Allah sebagai puncak tujuan hamba

Marifat kepada Allah adalah
puncak keuntungan seorang hamba.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan
untuk marifat, maka jangan menghiraukan soal
amalmu yang sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan
bagimu, melainkan Dia akan memperkenalkan diri
kepadamu.Tidakkah kau ketahui bahwa marifat itu
semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu,
sedang amal perbuatanmu hadiah daripadamu,
maka dimanakah letak perbandingannya antara hadiah
dengan pemberian karunia Allah kepadamu?

Fitrah manusia mengenal Allah, baik dalam pengertian
awam(umum) maupun dalam arti khosh (khusus).
Yang dimaksud mengenal Allah dalam pengertian umum
ialah pengenalan iman kepada Allah, sebagaimana yang
dikaji dalam aqoidul iman yang sangat mendasar. Itulah
ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok
dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan
keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap
manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain
dalam beragama.

Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah
mengenal Allah dalam arti Makrifatulloh (melihat Allah)
dengan matahati. Maka ia melihat Tak ada perbuatan yang
bertebaran di alam ini , kecuali perbuatan Allah; Tak ada
nama yang melekat pada suatu apapun, melainkan
nama Allah; Tak ada sifat yang mewarnai diri, kecuali
sifat Allah; Tak ada Dzat yang meliputi makhluk, melainkan
Dzat Allah. Dengan tahapan Ilman Yaqin, Ainul Yaqin,
Haqqul Yaqin dan Isbatul Yaqin[1][1].

Anugrah Allah kepada hamba yang dikasihiNya merupakan
lensa marifat yang hakiki kepada-Nya. Sebab bagi orang yang
tak dapat anugerah Allah, ia mengenal Tuhan mereka menurut
versi angan khayal mereka. Seperti Firaun yang menuhankan
dirinya, Namrud menuhankan patung batu (arca) dan di zaman
kini banyak orang yang menuhankan sesuatu selain Allah,
seperti menuhankan computer, kekuatan alam dan teknologi.
Mereka itu sebagai contoh orang yang tidak mendapat
anugerah marifat dari Allah.

Jika Allah telah menunjukkan kepada hamba-Nya dengan
sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang marifat,
kemudian kepadanya dibukakan pintu kemarifatan yang tetap
(sakinah) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa.
Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.

Hal ini pernah dialami oleh Nabi Ibrahim as dalam mengenal
Tuhannya: Dan demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim
tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan
di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu
termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi
gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: Inilah
Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah
bulan itu terbenam dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku
tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah akau termasuk
orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat
matahari terbit, dia berkata: Inilah Tuhanku, ini yang lebih
besar, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:
Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan[2][2].

Ibrahim as. dapat anugerah marifah kepadaNya dengan
melalui perjalanan yang tentunya melelahkan, tetapi hal itu
telah diganti dengan rasa nikmat yang besar serta ketenangan
yang sangat luar biasa.

Kemudian yang terjadi pada perjalanan Nabi Musa as.
dalam mengenal Tuhannya:
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia
melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:
Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya
kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.
Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil:
Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu (hawa nafsu & pikiran liar)
sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini
adalah Allah , tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku[3][3].
Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu
tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu
dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang
telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata
Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam
(meminpin ) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu
mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada
waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
kepadanya, berkatalah Musa: Ya Tuhanku, tampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.
(Berdoalah seperti doanya Musa ini)
Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku
tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
gunung itu jadi hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan.
(keadaan Fana fillah).
Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:
Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan
aku orang yang pertama-tama beriman[4][4].
(Bukit & Gunung yang ada pada Diri manusia)
Liku liku perjalanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as
dalam mencari Tuhannya yang sebenarnya tampak penuh
dengan tantangan . Tetapi semua peristiwa yang dialaminya
bermuara pada alur bimbingan-Nya, mereka tidak bisa
mengelak dari alur itu. Maka itulah yang disebut Anugerah
Allah. Sehingga mereka berdua menemukan Ilahul Haq alias
Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Allah.

Marifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan
kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan
hamba kepada Tuhannya. Dimisalkan; anugerah itu seperti
martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi
perdana menteri. Adapun amal ibadah seumpama upeti rakyat
kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh perbedaan antara
keduanya.

Ketahuilah wahai para salikin! Sesungguhnya maksud dan
tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan
itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub)
dirinya kepada Allah dengan amal itu. Tetapi perlu disadari
bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau
sedikitnya amal seorang hamba.

Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang
menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka
menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allah. Boleh jadi
penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat
terbukanya pintu kemarifatan kepada Allah.

Oleh sebab itu jangan mempunyai perasaan banyaknya
amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit
yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allah.
Perasaan lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan
berbagai kenikmatan dunia seraya diiringi oleh rasa cinta
negeri akhirat. Juga telah siap tuk meninggalkan dunia
nan fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai
pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilahi atau
anugerah Allah. Kesadarannya bahwa Allah bisa berbuat
apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya .


http://jalancahaya.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar