Senin, 24 Januari 2011

Kenyamanan Diri


Kenyamanan Diri

Aku mengenal baik siapa diriku;
Dulunya dia adalah setetes air yang hina
Kalek akan menjadi sekujur bangkai membusuk
Kini dia berada di antara kedua hal itu;
Hilir mudik ke sana ke mari membawa kotoran

Kita selalu bisa tahu, apakah seseorang yang berada di dekat kita merasa nyaman dengan keberadaan kita atau justru menganggap kit asebagai gangguan. Demikian pula orang yang kita ajak bicara. Mereka memberi isyarat dan tanda dengan bahasa tubuhnya untuk mengungkapkan ketidaknyamanannya itu. Kit aselalu bisa menangkap gejala-gejalanya.
Dalam dekapan ukhuwah, kita kemudian akan tahu diri. Kita merasa, kitalah masalahnya.
Tetapi bagaiman dengan peran sebaliknya? Apakah kit ajuga pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang di dekat kita, atau dalam kehidupan ini? Jawabannya tentu pernah. Pertanyaan selanjutnya adalah; dari mana asal perasaan tak nyaman yang kit alami ketika berhadapan dengan orang? Pada umumnya , kita akan menjawab dalam dua sisi; bisa dari mereka, dan bisa juga dari diri kita sendiri.
Saya lebih sering merasakan yang kedua.
Gangguan itu berasal dari dalam diri saya, bukan berasal dari orang-orang yang mendekat ke dalam kehidupan saya, apalagi sahabat-sahabat tercinta dalam dekapan ukhuwah. Bukan. Sama sekali bukan dari mereka. Saya betul-betul merasa, gangguan itu ada di sini, ada dalam diri saya. Ada ketidaknyamanan yangzhahir sifatnya. Misalnya, belum mandi dan belum bersiwak sehingga khawatir berdekat-dekat akan membuat kawan tak nyaman. Atau ketika merasa pakaian yang saya kenakan kurang pantas dan baunya agak apak karena telah berkeringat seharian.
Tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, berbau, dan kerdil berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa telah terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat kemaksiatan yang kita lakukan. Ya, itu benar. Saya teringat sebuah hadits yang tercantum dalam Al-Adabul Mufrad no 310 dan Al- Musnad V/71.
“Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” (H.R Al-Bukhari dan Ahmad)
Awal-awal ketika hati kita masih peka mengenali kemaksiatan sendiri, kitalah yang merasakan ketidaknyamanan batin. Tetapi jika perilaku dosa itu berlanjut, ketidaknyamanan itu juga akan makin hebat dan meningkat. Bukanhanya kita yang merasakannya, melainkan juga orang-orang yang kita kasihi. Bisa jadi, kemaksiatan yang kita lakukan telah membuat Allah murka, lalu Dia tanamkan rasa bendi kepada kita , di dalam hati hamba-hamba yang di cintai-Nya. Na’udzubillahimindzalik.
Memahami keadaan-keadaan itu, kita menemukan sebuah kaidah penting dalam dekapan ukhuwah. Bahwa merasa nyaman dengan diri kita sendiri, akan membantu orang lain untuk bisa merasa nyaman atas keberadaan kita didekatnya. Ini berlaku baik dalam suatu pertemuan singkat, maupun dalam jalinan hubungan jangka panjang di kehidupan.
Tentu saja dalam hal yang zhahir, kita memang perlu memerbaiki penampilan kita sehingga kita percaya diri dan merasa nyaman berhadapn dengan sesama. Dalam dekapan ukhuwah, lihatlah sang Nabi teladan kita. Penampilannya selalu memesona. Pakaiannya yang kebanyakan putih, selalu bersih. Rambutnya diminyaki. Wewangiannya semerbak. Beliau nyaman dengan seluruh perangkat zhahir yang beliau kenakan, dan orang-orang pun merasa nyaman dengan beliau.
Dalam hal batin, hati pun harus kita percantik agar diri merasa nyaman saat berhadapan dengan saudara-saudara tercinta. Memperbaiki terus-menerus ketaan dan hubungan dengan Allah adalah kuncinya. Selebihnya, kita memang bukan orang maksimum yang suci dari dosa. Maka berdamailah dengan kesalahan. Maksudnya tentu bukan menganggapnya sebagai angin lalu. Sikapi kesalahan dengan sepenuh penyesalan, mohon keampunan dengan taubat, iringi dengan kebajikan agar tertebus, dan muhasabahkan agar tak terulang.
Sesudah itu, sahabati nurani kita dengan nasehat tulus dari saudara-saudara yang mencintai kita karena Allah. Maka rasa nyaman pada diri pun hadir, hingga mereka juga merasa nyaman dengan keberadaan kita.
Tentu saja ada cara tertentu untuk membuat orang lain merasa tentram di dekat kita.
“Orang mukmin itu,”demikian Rasulullah bersabda,”Mudah akrab dan gampang di dekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tak mudah dekat dan sulit di akrabi.” Al-haitsami meriwayatkan hadits ini dalam Majma’uz Zawaaid X/273-274 dan Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilatu Al-Ahaadits Ash-Shahihah I/425.
Dalam dekapan ukhuwah kita belajar untuk memiliki kehangatan semacam ini. Mudah akrab dan gampang di akrabi. Jadikan orang-orang selingkar kita merasa  bahwa kita benar-benar memiliki hati untuk mereka. Itulah kebaikan yang kata Christian Boove merupakan bahasa yang bisa dikatakan oleh si bisu, terlihat oleh si buta, serta bisa didengar dan dimengerti oleh si tuli.
Menjadi orang yang mudah akrab dan gampang didekati mensyaratkan kita untuk menghargai perbedaan. Setiap orang memiliki kecenderungan yang tak dapat di paksa untuk sama dengan kesukaan kita. Kita belajar untuk mengerti bahwa ada beda-beda yang membawa kebaikan. Kita belajar untuk menghargai sesama atas apa adanya mereka dan apa yang mereka tawarkan. Seiring itu, kita belajar untuk menangani kelemahan-kelemahan diri. Kita belajar untuk saling melengkapi dan membantu satu sama lain.
Orang yang gampang didekatibiasanay adalah seseorang yang ksatria. Dia sadar, bahwa orang yang selalu berusaha mempertahankan  citra bahwa dirinya sempurna adalah orang yang menyebalkan. Maka dia adalah orang yang mampu mengakui kelemahan diri dan mampu menertawakan dirinya sendiri. “teberkatilah mereka,”kata sebuah peribahasa Tiongkok,”yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Sebab mereka takkan pernah berhenti terhibur di tengah kepahitan dunia.”
Dengan kemampuannya mengakui kelemahan diri, dia juga menjadi orang yang sigap dalam meminta maaf sekaligus pengasih. Dia pengampun. Dia memiliki kemampuan untuk memaafkan orang lain. Orang yang mudah diakrabi adalah mereka yang rendah hati dan mengetahui hakikat sebuah hubungan. “tak satu hal pun,”demikian terkutip dari David Augsburger dalam Simpson’s Contemporary Quotations,”Yang kita maksudkan baik lalu takmengandung kesalahan. Tak satu hal pun yang kit aupayakan yang tak membawa kekeliruan. Tak satu hal pun yang kita capai yang tak berkemungkinan menyakiti. Ah, kita menyebut semua keadaan ini menusiawi. Maka hanya penganpunan Tuhan dan sesama yang bisa menyelamatkan kita.”
Akhirnya, mereka yang nyaman dikaribi adalah orang-orang yangtampil apa adanya. Mereka takmenyembunyikan sesuatu. Suasana hati mereka tak banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitar. Mereka bisa diduga. Mereka gampang didekati sebab orang tahu anggapan yang akan di dapat ketika sesuatu disampaikan. Mereka menyeimbangkan prinsip ini dengankepekaannya pada perasaan sesama. Mereka tumbuh menjadi orang yang jujur tanpa menyakiti. Mereka bisa bicara terbuka tanpa melukai. Dalam dekapan ukhuwah, merekalah orang – orang yang gampang didekati , enak diakrabi, dan nyaman dikaribi.
Aku mencintaimu
Seperti Quraisy menyayangi ‘Utsman

Bait syair ini adalah senandung para ibu untuk menimang putra-putrinya di Hijjaz mapun Najd. ‘utsman bin Affan memang seorang figur kesayanagn. Akhlaknya yang mulia, kelembutan hatinya, kedermawanannya yang tanpa tanding membuat semua orang Quraisy mencintainya. Ketika di Hudaibiyah terdengar kabar bahwa ‘Utsman terbunuh, sang Nabi menadahkan tangannya yang suci, lalu bersabda,”Ini tangan ‘Utsman!” Maka terjadilah Bai’atur Ridhwan , janji setia kepada Allah yang salah satunya bertujuan membela darah ‘Utsman.
‘Utsman selalu menempatkan diri sebagai orang yang mudah didekatibagi siapapun.
Satu saat, Ummu Salamah, istri rasulullah, menulis sebuah surat kepada ‘Utsman. “Wahai putraku,” tulis beliau Radhiyallahu’anha,”mengapa aku melihat rakyatmu menyimpang dan menjauhkan diri darimu? Janganlah engkau, wahai putraku, menutupi jalan yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan janganlah engaku menyulut api fitnah setelah beliau memadamkannya. Berjalanlah seperti kedua sahabatmu, Abu Bakar dan ‘Umar. Keduanya, wahai putraku, benar-benar telah menetapi urusan khilafah ini, dan tidaklah keduanya menzhaliminya.”
“Duhai Ibunda, “ ujar ‘Utsman,”Wafatnya Rasulullah telah menampakkan segala hal yang sebelumnya tersembunyi di antara kita dan mereka. Kebenaran menunjukkan diri kepada kita beserta ahkinya, dan kebatilan pun demikian. Adapun Abu Bakar, Allah memberinya waktu yang sempit dan dia habiskan itu untuk mengembalikan ketaatan orang-orang. Adapun ‘Umar, sungguh dia adalah orang yang takk ingin ada yang berubah dari masa Rasulullah sehingga dia memaksa manusia dengan perintah dan cambuknya. Dia kuat dan mampu meski rakyatnya merasa berat dan sempit. Mereka yang menyimpang takut kepadanya sebagai manan syaitan mengambul jalan lain jika bertemu dengannya.”
“adapun aku, wahai Ibuku,”lanjut ‘Utsman,”Adalah orang yang berlapang dada atas segala keadaan dan kenyataan mereka. Aku telah melepaskankekangan orang yang terbelenggu, dan kubiarkan unta yang merumput sampai pada sumber mata airnya. Cukuplah Allah menjadi penolong bagiku pada hari di mana mereka takmampu berbicara dan tidak diizinkan bagi mereka untuk meinta ‘udzur.”

Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A.Fillah   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar