Senin, 24 Januari 2011

Jaga Kehormatanmu, Wahai Saudariku..


Bismillahirrahmaanirrahiim..
Assalamualaikum saudari seiman..

Di zaman sekarang yang semakin tak karuan ini, tetap tak dapat dipungkiri bahwa masih ada---bahkan banyak--- wanita yang menganggap remeh jilbab dan enggan mengenakannya. Entah karena merasa tidak trendi, ketinggalan zaman, merasa belum mantap, takut tidak laku, belum cukup umur, tidak tahan cuaca panas, takut di kira golongan sesat, mengaku belum dapat hidayah, dan sebagainya. Begitu banyak alasan yang mereka kemukakan. Sebenarnya hal itu tidak patut dijadikan pembenaran yang mutlak. Tidak sedikit wanita yang mengenakan jilbab dan mereka merasa lebih nyaman, aman , dan tentram,  dibandingkan dulu saat mereka masih mempertontonkan kecantikan mereka secara gratis.
Saudariku.. sadarkah bahwa kita sangat berharga? Begitu berharganya kita hingga Allah pun sangat menjaga dan memuliakan kita , para wanita. Allah melarang wanita untuk menampakkan perhiasannya kepada khalayak umum. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman:
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.s Al-Ahzaab:59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan jangan lah mereka menampakkan perhiasannya , kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan jangnlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, .... dan bertaubatlah  kamu sekalian kepada Allah , hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (Q.S An-Nuur:31)
Dengan adanya hukum dan aturan Allah tentang penggunaan jilbab, tentunya kita sebagai wanita tidak dapat mengabaikan perintah tersebut seenaknya saja. Allah memerintahkan wanita menggunakan jilbab agar kita dapat terhindar dari fitnah dan segala bentuk pelecehan yang muncul dari para kaum Adam. Bahkan, pada kenyataannya begitu banyak tindakan pelecehan yang merugikan pihak wanita sendiri.
Sebenarnya jika para wanita mampu menjaga diri dengan menutup aurat dan tidak mengumbar nafsu, dapat dipastikan itu akan menjaga tidak timbulnya syahwat dari para lelaki. Tentunya sebagai seseorang yang memiliki harga diri, wanita tidak ingin dirinya dilecehkan. Dia  tidak ingin dirinya menjadi tontonan gratis bagi jutaan pasang mata yang sebenarnya tidak pantas untuk menikmatinya.
Wanita itu sangat berharga, bisa dibilang mahal.
Lalu seperti apakah wanita yang berharga tersebut?
Wanita yang berharga adalah wanita yang mampu menjaga perhiasannya. Wanita yang senantiasa menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Wanita yang tidak mengumbar nafsu dan fitnah. Wanita yang menjaga kehormatan dan harga dirinya.
Namun berbeda halnya dengan wanita yang memamerkan kecantikannya. Dia akan bangga ketika banyak lelaki yang mengagumi kecantikannya. Dia tak sadar bahwa dia sudah menjadi objek pemuas mata para lelaki. Bahkan sudah merebak di entertainment, wanita yang ‘menjual’ perhiasan mereka demi mendapatkan kepopuleran dan materi semata. Perintah Allah untuk menjaga perhiasan mereka pun terabaikan. Mereka beralih dengan alasan merasa belum mampu untuk istiqomah, belum mendapatkan hidayah, dll.
Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang kerabat,”Mengapa kamu tidak mengenakan kerudung? Padahal ibumu sendiri sudah menyuruh untuk menggunakan jilbab. Kamu itu sudah dewasa loh.. sudah berkewajiban untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat.”
 Lalu dia menjawab,”ah, nanti saja kalau sudah bersuami...”
“kalau sudah bersuami? Jadi kau akan menutup auratmu setelah sekian juta pasang mata menikmati kecantikanmu. Kasihan suamimu nanti. Mendapatkan isteri yang kecantikannya sudah dinikmati oleh jutaan pasang mata yang sebenarnya tidak pantas untuk menikmatinya.”
Dia terdiam sejenak, mungkin dia mulai merenungi apa yang saya ucapkan.
“tetapi jilbab tersebut akan menghalangi segala cita-cita saya, dan nanti tidak akan ada lelaki yang tertarik pada saya karena saya merasa tidak cantik menggunakan jilbab..”, jelasnya mengeluh, dan dia terus mengelak untuk menggunakan jilbab.
“sayang, pahami dulu apa makna dan hikmah nya kalau kamu pakai jilbab. Jilbab tersebut tidak akan pernah menghalangi apa yang sudah menjadi cita-citamu. Bahkan kamu mungkin mendapatkan lebih dari yang kau citakan. Itu bukan hal yang mustahil bagi Allah. Jika Allah sudah meridoi apa yang kau lakukan, insyaAllah semuanya akan lancar-lancar saja. Suatu kebaikan itu tidak akan menghambat niat baik. Dan jika kamu merasa tidak percaya diri mengenakan jilbab, kau merasa tidak cantik mengenakan jilbab, masalahnya bukan terletak pada penggunaan jilbabnya tetapi masalahnya ada pada hatimu. Kau tidak mau membuka hatimu. Ketika hatimu sudah sedikit melunak, kau segera menepisnya dengan segala egomu hingga hatimu pun mengeras kembali. Aku sahabatmu , kawan. Aku ingin yang terbaik bagimu. Aku hanya ingin mengingatkan dan mengajakmu memenuhi kewajibanmu sebagai wanita yang sudah baligh. Bahkan kau sudah mendapat petunjuk dari Sang Khalik melalui firman-Nya. Begitu banyak ayat Al-Quran yang sudah sering kau baca mengenai kewajiban menutup aurat. Lalu apa lagi yang kau tunggu? Jangan hanya karena masalah duniawi, kau mengorbankan kewajibanmu sebagai hamba. Jangan menunggu hingga kau bersuami, karena kita takkan pernah tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia ini. Selagi ada orang yang mengingatkanmu, ayolah, perbaikilah dirimu.. memang tak pernah ada kata terlambat untuk berubah, tetapi hukum itu hanya berlaku selama kita hidup. Setelah kita meninggal, hukum itu tak berlaku lagi. Semuanya akan benar-benar terlambat dan kita tak mampu melakukan perbaikan apapun, yang ada hanya kepasrahan mempertanggunggawabkannya segala kelalaian kita di dunia.”
“Sahabatku, jilbab tidak akan menghalangi seorang pria manapun untuk menyukaimu. Bahkan kau akan mendapatkan pria terbaik bagi dirimu. Pria yang juga menjaga hatinya. Ingat, pria yang baik-baik hanya untuk wanita baik-baik, itu berlaku sebaliknya. Kau selalu bijak dalam bersikap terhadap orang lain, kini, bijaklah terhadap dirimu sendiri. Sayangi dirimu. Ingatlah, dunia ini hanya ladang kita untuk menanam pahala, menuai kebaikan, yang hasilnya akan kita panen di akhirat kelak. Padi yang dijaga baik dari segala bentuk hama, pasti hasilnya akan bagus dan bermanfaat menghindari kita dari kelaparan. Sedangkan padi yang dibiarkan diganggu oleh hama, hasilnya pasti rusak dan tidak dapat diambil manfaat darinya. Begitupun kita sebagai wanita, jika kita mampu bertahan didunia ini, kita mampu menjaga diri kita dari segala bentuk fana nya dunia ini, kita mampu menuai kebaikan, tentunya kita akan memanen hasilnya yang menyelamatkan kita dari pedihnya siksaan di neraka.”
“Tentu kau ingin dihargai oleh orang lain, bukan? Jika kau menjaga dirimu, mengenakan hijab yang dapat melindungi dirimu dari pandangan penuh syahwat dan pikiran kotor para lelaki yang tidak tahu diri. Lihatlah dirimu di depan cermin, pandangi dirimu yang cantik itu. Kau sangat berharga, sayang. Apakah kau tidak menyayangi dirimu sendiri  hingga kau tega merelakan kecantikanmu itu dinikmati orang lain yang tak berhak? Kenali dirimu. Pahami apa yang sebenarnya kau inginkan. Jangan karena sebuah tuntutan mode, kau mengabaikan dirimu. Kau harus tahu, ketika kau mempercantik dirimu untuk orang lain, setidaknya kau sudah membiarkan mereka berpikiran dengan angan mereka masing-masing mengenai dirimu. Dengan menutup perhiasanmu dari orang lain, berarti kau menghormati dirimu sendiri. Yang kemudian atas izin Allah, orang lain pun akan menghormati dan menghargaimu. “
“ Apakah kau masih ingat perumpamaan barang yang di obral dan barang yang berada di etalase? Menurutmu, mana yang lebih mahal? Hmm, tentu saja yang dietalase , bukan. Barang yang di obral, siapapun dapat menyentuhnya walaupun tidak ada sedikitpun niat untuk membeli. Kasihan sekali barang itu. Tetap berdiam di kotak penyimpanan barang obralan, semakin usang, dan bahkan semakin lama barang itu ada di keranjang tersebut, semakin tidak ada orang yang mau membelinya karena sudah tidak layak pakai. Yang pada akhirnya, barang tersebut menjadi barang gratisan yang dihadiahkan bagi pembeli yang mau membeli barang yang lainnya. Sungguh kasihan.
Bandingkan dengan barang yang ada di etalase, barang tersebut selalu dijaga. Tertutup. Tidak boleh disentuh oleh sembarang orang. Hanya pembeli yang benar-benar mampu yang akan membelinya,dan yang dapat menyentuh dan memilikinya. Orang lain hanya bisa melihatnya terpajang anggun di dalam etalase. Sampai kapanpun barang itu tetap berkilau, bersih, tidak kumal oleh banyaknya sentuhan tangan kotor calon pembeli yang sekedar ingin lihat-lihat. Pembeli barang itu pun akan sangat bahagia ketika sudah  memilikinya karena barang tersebut masih suci dari sentuhan orang lain. Dialah pemilik barang itu seutuhnya.”
“Apa kau sudah memahami maksud perumpamaan itu,saudariku?”
“hhmmm,, aku tahu kau akan memahaminya. Renungkan. Buka hatimu. Biarkan hidayah Allah itu masuk ke dalam kalbumu. Lupakan duniawi. Dunia ini hanya sementara. Kau juga tahu, bukan? Begitu banyak mualaf di muka bumi ini. Apakah kau mau kalah dengan mereka? kau sudah menganut islam sejak kau kecil. Seharusnya ibadah dan akhlakmu lebih bagus karena ilmu yang kau punya melebihi apa yang mereka punya. Kau memiliki lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat yang dapat membimbingmu secara langsung. Tidak sekedar teori. Banyak contoh  nyata dalam kehidupan sekitarmu. Buka mata hatimu, saudariku. Jangan biarkan egomu membela kebiasaan kaum kafir yang dapat menjerumuskanmu ke jalan sesat. Kau tahu bahwa trend mode yang kau ikuti itu adalah tipu daya kaum kafir untuk menyesatkan manusia, terutama umat islam. Tentunya kau tidak boleh lupa bahwa barangsiapa yang mengikuti apapun dari suatu kaum , maka ia termasuk dari suatu kaum tersebut. Ayolah, saudariku.. buka hatimu. Dengarkan dan turuti kata hati nuranimu. InsyaAllah kau akan selalu dibimbing oleh-Nya. Amin.”
Oh iya, sebelum menulis artikel ini, saya membaca suatu ‘Catatan Seorang Pria’ dari sebuah buku karya Burhan Sodiq yang berjudul “Engkau lebih Cantik dengan Jilbab”.  Berikut catatan tersebut, semoga dapat lebih membuka mata hati kita sebagai wanita agar tetap istiqomah mengenakan jilbab.

Catatan Seorang Pria
Tahukah kamu, mengapa saya suka wanita yang berjilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan, bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini, mulai dari keluar pintu rumah hingga kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau, di kampus tempat saya seharian di sana, ke arah manapun saya memandang selalu membuat mata saya terbelalak . Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, yaitu mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat ke depan, ada perempuan berlenggok dengan seutas Tank Top. Menoleh ke kiri, pemandangan “pinggul terbuka” . menghindar ke kanan, ada sajian “Celana ketat plus You Can see”. Balik ke belakang, di hadang oleh “dada menantang”. Astaghfirullah, kemana lagi mata ini harus memandang?
Kalau berbicara tentang ‘nafsu’, jelas saya suka. Hal seperti di atas, itu mah kurang merangsang. Tapi sayang, saya tidak ingin hidup ini di balut oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita, buakn sebagai objek pemuas mata, tetapi sebagai sosok yang memesona, dan kalau di pandang, bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membuat mata panas, membuat iman lepas di tarik oleh pikiran ‘ngeres’, dan hati pun menjadi keras.
Andai saja wanita mengerti apa yang dipikirkan seorang laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali, bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki dengan aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi --- kalau boleh saya definisikan--- berdasarkan kata dasarnya adalah ‘penuh daya tarik seks’. Kalau ada wanita yang dikatakan seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu,. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan di hargai, semestinya Anda malu. Karenan penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi Anda, membayangkan Anda sebagai objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap Anda melakukan lebih seksi , lebih, dan lebih lagi. Dan Anda tau, kesimpulan apa yang ada dalam benak sang lelaki? Kesimpulannya yaitu Anda bisa di ajak untuk begini dan begitu, alias ‘gampangan’.
Mau tidak mau, sengaja atau tidak, Anda sudah membuat diri Anda tidak dihargai dan tidak dihormati oleh penampilan Anda sendiri, yang Anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu buruk terjdi pada diri Anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin Anda menjawab ‘lelaki’ , bukan? Betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki di jaman sekarang ini.
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalu tidak ada yang jual. Simpel saja,orang pasti beli kalau ada yang nawarin. Apalagi kalau barang bagus itu gratis, pasti semua orang akan berebut menerima. Nah, apa bedanya dengan Anda menawarkan penampilan seksi pada khalayak ramai? Saya yakin, siapa yang melihat pasti ingiin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi, saya harus menahan penyiksaan mata ini. Bukan hanya hari  ini saja, tapi seperti itulah rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau  protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? Tapi ssaya sungguh takut dengan dzat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkannya? Sungguh, suatu dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah ta’ala telah berfirman,”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita-wanita beriman,’hendaklah mereka menahan oandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.An-Nuur:30-31)
Jadi, tak salah bukan, kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer, menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor? Saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tidak bisa mempertanggungjawabkan nentinya. Jadi, tak salah jug abukan, kalau saya paling malas di ajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian?
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi Anda para wanita, apakah akan selalu dan semakin menyiksa kami sampai tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian terpakssa mengambil keputusan untuk menikmati pemandangan yang Anda sajikan?
So, berjilbablah ! karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, memesona, dan tentunya sejuk dimata.
(di kutip dari sebuah blog)

 Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik lagi dan menjadi seorang hamba yang terus istiqomah berjuang di jalan-Nya.

Bandung, 15 January 2011
 12.22 wib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar