Rabu, 15 Desember 2010

Belajar dari kisah : Mengapa Harus Berbagi

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ada satu kisah menarik yang disampaikan oleh kang Jalal dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Harus Berbagi. Beliau menyampaikan kisah Bani Israel dengan Musa as yang hendak menjamu Tuhan Rabbul Alamin. berikut petikannya:

Kaum Bani Israel suatu kali mendatangi Musa,"Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami."
Dengan marah Musa menjawab,"Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan? " . Tetapi ketika Msa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata padanya,"Kenapa tidak kau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka pada Jumat petang."
Musa menyampaikan firman Tuhan itu keada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tiba dalam keadaan lelah dari perjalanann jauh. "Saya lapar sekali,"katanya kepada Musa."Berikanlah aku makanan," Musa berkata,"Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah air ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang.Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.
Musa menaiki bukit Sinai dan berkata,"Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab," Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku biicara kepadamu bahwa Aku lapara, kau menyyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan."
"Tuhanku,seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,"kata Musa.
"Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langgit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hatihamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti meghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku."

Begitu banyak amal dan kegiatan yang dapat kita lakukan dalam kahidupan ini untuk meringankan beban orang lain. Di antaranya adalah menyantuni anak yatim, memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa khususnya kalangan fakir, memberikan bantuan kepada orang yang sedang kesulitan, menunda penagihan hutang, membuat orang lain bahagia, dsb.
perbanyaklah hal ini, dan Anda akan mendapati bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala akan senantiasa di berikan kepada kita yang mau melakukannya.
Saudaraku, para imam hadist yang menyampaikan riwayat hadist yang memuat kisah seorang yang banyak memiliki piutang terhadap orang lain. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menyampaikan kisah ini agar diambil ibrah bagi orang yang mau mengikutinya.

Tersebutlah seorang yang banyak memiliki piutang. Ia jalani hidup dengan begitu senang dan damai. Meski di luar banyak piutang yang macet, namun kondisi sulit ini selalu dijadikan alat baginya untuk berdoa kepada Allah meminta keselamatan di hari kiamat.
Pria itu berpesan kepada anka buahnya (staf),"Jika kau dapati ada orang yang sulit melakukan pembayaran hutang maka permudahlah! Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta'ala akan memudahkan kita."
Itulah yang sering ia lakukan dalam menghadapi kredit macet. Apabila ada kreditur yang sungguh tidak mampu membayar, ia tidak akan bersikeras untuk memaksanya. Sebab tindak kekerasan dan paksaan bukanlah cara terbaik yang dapat dilakukan. Berbeda apabila kreditur adalah orang yang memang suka menunda pembayaran hutang dengan sengaja maka pada kasus seperti ini pelajaran yang bermanfaat baginya perlu diberikan.

Benarlah, dalam hadist Muttafaq 'Alaihi disebutkan bahwa saat pria yang memiliki piutang tadi meninggal dan berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta'ala maka Allah akan memudahkan segala urusannya di akhirat. Bahkan dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa orang itu mendapatkan naungan Allah subhanahu wa ta'ala di harikiamat, di saat tiada naungan selain milik-Nya.
Itulah balasan bagi orang yang suka meringankan beban penderitaan orang lain.Semoga kita semua akan mendapatkan balasan serupa dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Demikianlah beberapa hikmah yang dapat disampaikan. Momentumm insyafnya seorang hambadapat dimanfaatkan untuk peduli terhadap sesama. Sekaligus dapat dijadikan saat untuk belajar memudahkan urusan orang lain dan meringankan beban manusia. Semoga dengannya, Allah subhanahu wa ta'ala Yang Mahakuasa akan berkenann memberikan pertolongannya kepada kita semua, dan meringankan segala permasalahan yang kita miliki.

Sumber: Ust Bobby Herwibowo dalam The Power of Akhlak,menjadi Kesayangan Allah.  Jakarta:Qultum Media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar