Jumat, 10 Desember 2010

Yang Tertarik Itu Menarik



kusimak dia sepenuh hati dan jiwa
seakan-akan ini pertama kali aku mendengarnya
padahal aku telah menghafal haditsnya
jauh sebelum dia lahir ke dunia
-Atha 'ibn Abi Rabah-


THAIF. Kota inilah yang dalam kehidupan Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam mengukirkan doa menyejarah itu, dan kita mengenangnya dengan hati rintik-rintik. Doa itu adalah doa yang telah diucapkan juga oleh parea Nabi sebelum dia, hingga terhubunglah mereka sebagai matarantai pembawa kebenaran. Doa itu, adalah sebentuk keinsyafan bahwa berjalan diatas wahyu berarti menjajal dan mencoba, upaya dan kerja. Beliau, sang Rasul, harus mengerahkan segenap daya dalam kemanusiaannya untuk menyatukan kehendak dengan kehendakNya.
“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya merka tidak tahu.”
Di saat Mekkah memusuhi beliau habis-habisan, pemuka-pemuka Thaif juga mengabaikan seruannya. “Berarti kain penutup Ka’bah telah terkoyak,”ujar ‘Abd Yalail ibn ‘Amr, “Jika sampai Allah mengutusmu menjadi Rasul.” Saudaranya, Mas’ud ibn ‘Amr Ats-Tsaqafy yang menyebut diri orang agung Thaif menimpali,”Apakah Allah tidak mendapatkan orang selain dirimu yang di utusNya?” sementara Hubaib ibn ‘Amr yang bijaksana namun tak hendak menyelisihi kedua kakaknya juga menolak beliau.”Maaf”, ujarnya, “Aku tak ingin bicara denganmu. Andai benar engkau nabi, membantah dan menyanggahmu akan menjadi kecelakaan bagiku. Andai engkau berdusta atas Allah, maka tak layak bagiku bicaar dengan penipu.”
Setelah beberapa hari tinggal, orang-orang Thaif makin murka atas seruan beliau. Mereka berkerumun, mencerca dan meneriaki beliau. Dari dua barisan mereka mengejar dan melempari beliau dengan batu. Tubuhnya lebam. Kakinya terluka. Darah melelh membasahi terompahnya. Zaid ibn Haritsah yang membentengi beliau dengan tubuh, entah berapa luka yang tertoreh di kepala dan badan.
Beliau dihinakan dan diusir. Beliau terus dikejar dan disakiti hingga tiga mil kemudian sampai di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah ibn Rabi’ah. Di sinilah mereka lalu meninggalkan beliau dan kembali ke Thaif. Adapun sang Nabi, tertatih beliau menghampiri sebatang pohon anggur, lalu duduk beristirahat meredakan rasa sakit yang zhahir maupun bathin. Sedikit demi sedikit, beliau pun kembali tenang.
Nantinya di Qarnul Manazil, beliau akan menengadah ke atas. Segumpal awan menaungi beliau dan di sana tampaklah Jibril. “Sesungguhnya,”ujar Jibril,”Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan Dia telah melihat apa yang mereka perbuat atas dirimu. Allah telah mengutus malaikat yang menjaga gunung agar engkau menyuruhnya melakukan apapun yang kau kehendaki atas kaummu.”
“Wahai Muhammad,” malaikat yang di tunjuk Jibril itu berseru,”Ini telah terjadi, dan apa yang kini kau kehendaki? Jika engkau menginginkan untuk meratakan Akhsyaiban, yakni Jabal Abu Qubais dan Qa’aiqa’an, dan menimbunkannya pada mereka, tentu aku akan melakukannya!”
“Justru aku berharap,”jawab sang Nabi dengan teduh,”agar Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang-orang yang akan menyembahNya dan tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”

Utbah dan Syaibah ibn Rabi’ah yang sedang ada di kebunnya merasa iba melihat keadaan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. “Hai Addas,” panggil salah satu di antara keduanya kepada seorang pembantu,”Ambillah setandan anggur dan serahkan pada lelaki di sana itu.”
Addas beranjak menemui sang Nabi. Diulurkannya anggur itu dan beliau menerimanya dengan tersenyum. “siapakah namamu, wahai saudara yang mulia?”tanya Rasulullah. “Namaku Addas. Aku hanyalah pembantu Tuan Utbah dan Tuan Syaibah.” Addas memerhatikan, ketika memetik sebulir anggur dari tangkai, lelaki lusuh dan terluka namun berwajah seri itu menyebut nama Allah.”
“Bismillaahirrahmanirrahiim,”ucap Rasulullah sambik mengulurkan kembali anggurnya untuk menawari Addas. Addas menggeleng dan tersenyum.
“Kata-kata itu tak pernah diucapkan oleh orang-orang di negeri ini,”kata Addas berkomentar.
“Dari manakah asalmu, hai Addas? Dan apa pula agamamu?”
“Aku seorang Nasrani. Aku penduduk negeri Ninaway.”
Oh, dari negeri seorang shalih bernama Yunus ibn Matta?” tanya sang Rasul begitu Addas menyebut nama negeri asalnya. Mata Addas mengerjap, pupilnya melebar. Lelaki ini benar-benar membuatnya tertarik.
“Apa yang kau ketahui tentang Yunus ibn Matta?”tanya Addas.
Sang Utusan tersenyum,”Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan akupun seorang nabi.”
Mendengar itu, Addas langsung merengkuh kepala Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Addas menciumi tangan beliau dan mengecup kakinya. Melihat kejadian itu Utbah dan Syaibah saling berbisik.”Demi Allah,”kata Utbah, “Muhammad telah merusak pembantu kita itu!”

“Inilah salah satu fakta paling mendasar,”ujar Dale Carnegie dalam How to Influence People and Win Friends, “Dalam kejiwaan manusia. Kita tersanjung oleh perhatian yang diberikan oleh orang lain. Kita merasa istimewa. Kita ingin berada ditengah-tengah orang yang tertarik pada kita. Kita tidak ingin berpisah dari mereka. Kita juga dengan bahagia akan membalas ketertarikan mereka denga menunjukkan rasa tertarik pada mereka.”
Maka, sesungguuhnya untuk menarik seseorang ke dalam kehidupan kita, kitalah yang oertama-tama harus tertarik pada mereka, dan memberikan perhatian yang tulus. “Anda,” ujar John C. Maxwell dalam Winning with People,”Bisa mendapatkan teman yang lebih banyak dalam dua bulan denga menjadi tertarik pada orang lain, daripada dalam dua tahun dengan mencoba membuat orang lain tertarik kepada Anda.”
Orang yang menarik sering disebut sebagai orang yang kharismatik. Berkharisma.
Apa sebenarnya kharisma? Sesungguhnya itu kata yang cukup pendek untuk meringkas beberapa hal yang sangat penting. Pertama-tama, berkharisma artinya adalah menjadi benar-benar tertarik pada orang lain. “Cobalah untuk menyayangi,”demikian sastrawan George Elliot menuliskan,”Sesuatu dalam dunia yangluas ini selain dari pemenuhan kebutuuhan dir yang remeh. Cobalah untuk mengagumi sesuatu yang sama sekali terpisah dari urusan kita. Lihatlah kehidupan lain diluar keseharian kit asendiri. Lihatlah kesulitan-kesulitan manusia, dan bagaimana mereka dilahirkan.”
Seseorang yang berkharisma adalah dia yang dermawan. Sekurang-kurangnya dia menyedekahkan waktu dan perhatiannya untuk sesama. Tetapi dia tak pernah menganggap remeh hal-hal kecil yang bisa dia lakukan. Untuk tersenyum,misalnya. “senyummu yang merasuk dalam wajah saudaramu,” demikian sang Nabi bersabda dalam riwayat Muslim,”adalah shadaqah.” Di lain tempat, Imam Muslim meriwayatkan kata-kata beliau,”Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski sekedar berwajah manis di hadapan saudara.”
Dalam dekapan ukhuwah, yang tertarik itu menarik.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan BBC dalam film dokumentasi berjudul FACE menunjukkan bahwa nsur utama dari kecantikan danketampanan seseoramg adalah simetri. Katakanlah Lady Diana dan Madonna itu sama-sama cantik. Tetapi seorang wanita takkan terlihat cantik jikak wajah kirinya sama dengan Lady Diana sementara rupa kanannya persis dengan Madonna. Itu tidak simetris!
Saran menariknya adalah, untuk membangun simetri wajah, kita hanya hrus membiasakan satu hal:senyum tulus. Senyum sinis dan cemberut merusak simetri wajah dan menghancurkan ketampanan serta kecantikan. Maka orang-orang berkharisma biasanya terlihat tampan dan cantik. Mengapa? Karena mereka banyak berbagi senyumm, lalu wajah mereka menjadi simetris.

Dalam dekapan ukhuwah, yang tertari itu menarik. Masih ada beberapa hal lagi tentang kharisma. Untuk menunjukka ketertarikan pada sesama, orang berkharisma biasanya juga berjuang keras untuk menghafal nama-nama. “Tak ada yanglebih manis terdengar di telinga seseorang,” kata Dale Carnegie,’ Dibandingkan nama atau panggilan kesukaannya.”
Ada sebah cerita memikat yang dikisahkan ‘Abbas As-Sisiy dalam Ath-Thariq ilal Qulub. “Suatu hari di tahun 1951,” tulisnya,”saya berada di kantor cabang Al-Ikhwan Al-Muslimun di Jalan Iskandarani. Lalu ada dua orang datang, yang sudah mempunyai janji dengan salah seorang teman. Saya sambut kedatangan mereka dengan menyebut nama-nama mereka. Mereka tampak terkejut.”
“Tatkala teman yang mereka tunggu itu datang,”lanjut As-Sisiy,”Mereka berkata kepadanya,’kami tidak mengenalnya selama ini, tetapi bagaiman dia mengenal nama kami?”
Kemudian saya diajak duduk bersama. Lalu saya bertanya kepada keduanya,”Bukankah kalian berdua setiap pagi naik trem dari stasiun Rashafah?” keduanya menjawab,”Ya.”
Saya berkata,”Saya setiap pagi juga naik trem yang sama.”
“Akan tetapi,” ujar mereka,”Kami tidak melihat anda bersama kami.”
“Karena saya memakai seragam militer,” jawab saya sembari tersenyum dan memperagakan sikap sempurna seperti ketika saya memakai seragam militer.
Keduanya teringat dan tersenyum. “Ya,ya,ya!” kata salah satu di antara mereka , “Tapi bagaimana Anda bisa mengetahui nama kami?”
“Saya mendengar salah satu di antara kalian berkata,’selamat pagi, Muhammad’, lalu yang satunya menjawab,’Selamat pagi,Ahmad.”
“Untuk apa Anda menghapal nama kami?”
“Jawabannya adalah,” kata saya, “Apa yang terjadi saat ini. Ahlan wa sahlan, Saudaraku!” Saya memeluk keduanya.
“Tabiat dakwah kita,” tulis Abbas As-Sisiy menutup cerita,”Adalah saling mengenal. Dan saya yakin bahwa suatu saat dakwah kita akan dapat menghimpun orang-orang yang berjiwa baik dan berkepribadian mulia. Kejadian di atas sangat membekas di hati keduanya.”
Dalam dekapan ukhuwah, yang tertarik itu menarik. Lebih lanjut, orang berkharisma adalah mereka yang mampu bicara dalam kaitan dengan minat orang lain. Mereka juga pandai untuk membuat orang merasa penting.
Ada beberapa orang dari Yastrib yang ingin menjumpai Rasulullah. Salah seorang di antara mereka adalah Ka’b ibbn Malik. Dia yang menceritakan kisah ini. “Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah,” kata Ka’b.”karena kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya kepadanya tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
“Apakah kalian sudah mengenalnya?”tanyanya.
“Belum.”
“Jika kalian masuk ke dalam masjid,”ujarnya,”Maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muthalib. Al-‘Abbas itu tak lain adalah pamannya.”
“ya, kami mengenal Ai-‘Abbas,”kataku, “Dia sering datang kepada kami untuk berdagang.’
“Masuklah ke mesjid,’kata orang itu,’Dan temui orang yang duduk bersama Al-‘Abbas.”
Kemudian kami masuk ke dalam mesjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama pamannya. Kami memberi salam, lalu dudukmdi dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Al-‘Abbas,’Wahai Abul Fadhl apakah engkau mengenal dua orang ini?”
“Ya,”kata Al-‘Abbas. “Yang ini adalah Al-Barra’ ibn Ma’rur, seorang pemuka kaum Yastrib. Dan ini adalah Ka’b ibn Malik.”
“Apakah dia penyair yang terkenal itu?”tanya  sang Nabi sambil menegakkan diri dari sandarannya.
“Engkau benar,” jawab Al-‘Abbas.
Ka’b ibn Malik menutup ceritanya dengan kenangan takjub. “Sungguh,”ujarnya,”Saya tidak pernah melupakan ucapan beliau,’Apakah dia penyair yang terkenal itu?”


Di kutip dari Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A.Fillah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar