Minggu, 01 Januari 2012

Ma'rifatullah


Bismillaahirrahmaanirrahiim

        Ma’rifatullah  (mengenal Allah) adalah landasan tempat berdirinya Islam secara keseluruhan. Tanpa ma’rifat ini, seluruh amal ibadah dalam Islam atau untuk Islam menjadi tidak memiliki nilai hakiki. Ini dikarenakan dalam kondisi seperti itu, orang tersebut kehilangan ruh-nya. Ma’rifat bukanlah mengenali dzat Allah karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Menurut Ibn Al Qayyim, Ma’rifat yang dimaksudkan oleh ahlul ma’rifat (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya. Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma’rifatullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
Seseorang dianggap ma’rifatullah jika ia telah mengenali asma’ Allah, sifat Allah, dan af’al (perbuatan) Allah yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini. Bekal pengetahuan ini ditunjukkan dalam kehidupannya sehari-hari seperti: sikap sidq (benar) dalam bermuamalah dengan Allah, ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah, pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah subhanahuwata’ala, sabar dan menerima pemberlakuan hukum dan aturan Allah atas diirnya, berdakwah dan mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya, membersihkan dakwahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektivitas siapapun dan hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Figur teladan dalam ma’rifatullah ini adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliaulah orang yang paling utama dalam mengenali Allah subhanahuwata’ala. Beliau bersabda:
“Sayalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya”. H.R Al Bukhari dan Muslim.
Hadist ini ini Beliau ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diir kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.
Tingkatan berikutnya setelah Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam yaitu ulama amilun (ulama yang mengamalkan ilmunya). Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (Q.S Fathir :28)
Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarakat, dermawan, dll. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada disana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.
Ada sebagian ulama mengatakan:”Dduuk disisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu: dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunis menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’, dari buruk hati menjadi nasehat.”
Ma’rifatullah ini tidak akan realistis sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu: tauhid rububiyyah, tauhid asma dan sifat (sering disebut tauhid al ma’rifat wa al itsbat), dan tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.

Urgensi Ma’rifatullah
1.     Allah adalah Tuhan semesta alam
“Katakanlah(Muhammad) ‘ siapakah Tuhan langit dan bumi?’ Katakanlah ‘Allah’. Katakanlah, ‘pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?’ katakanlah ,’samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat?’ atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?’ katakanlah ‘Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa”. (QS Ar-Ra’d :16)
2.     Mengetahui tujuan hidup
Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran  yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karen ama’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak).
“Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Az-Zariyaat:56)
3.     Merasakan kehidupan yang tenang dan lapang
Ma’rifatullah juga merupakan asas (landasan) perjalanan ruhiyyah manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar. Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:
“Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur.” (HR Muslim)
4.     Selain itu, dari ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk memelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para nabi dan rasul lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah. Dari ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti malaikat, jin, dan ruh.
5.     Dari ma’rifat inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzaniyyah (alam kubur) dan kehidupan akhirat.

Sarana ma’rifatullah
1.     Akal sehat
Akal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Allah berfirman:
”Perhatikanlah apa yang ada dibumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus:101)
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:”Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karenakamu tidak akan mampu.” (HR Abu Nu’aim)
2.     Para Rasul
Para rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang ma’rifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakui sebagai orang yang paling mengenali Allah. Allah berfirman:
”Sesungguhnya Kamitelah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya menausi dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al Hadid:25)
3.     Asmaul Husna dan Sifat Allah
Mengenalli asma dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk mengenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk dapat mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Allah berfirman:
“Katakanlah: serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma’ al husna (nama-nama yang terbaik).” (QS Al-Isra:110).
“Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu…” (QS Al-A’raf:180)
4.     Fenomena Alam (Alam semesta)
“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) dilangit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf:105)
5.     Al-Qur’an
“Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut:49)
6.     Mu’jizat
“Dan rasul-Nya pun berada ditengah-tengah kamu” (QS. Ali Imran:101)
“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu benda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata:’ (Ini adalah) sihir yang terus menerus’.” (QS. Al-Qamar:1-2)

Faktor Penghalang Ma’rifatullah
1.     Menyerupakan (menganalogikan) sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya atau yang dikenal dengan istilah tamtsil atau tasybih. Ketika Allah ta’ala menetapkan diri-Nya memiliki wajah dan tangan, orang yang melakukan tamtsilmengatakan wajah dan tangan Allah tersebut seperti wajah dan tangan kita. Hal ini didustakan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya), “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy Syuura: 11). “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (yang kamu serupakan dengan-Nya).” (QS. An Nahl: 74). Penganalogian sifat Allah dengan makhluk-Nya merupakan aib, karena Allah, Zat yang Mahasempurna diserupakan dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan.
2.     Menolak nama dan sifat Allah, baik menolak seluruhnya atau sebagiannya. Termasuk bentuk penolakan nama dan sifat-Nya adalah menyelewengkan makna nama dan sifat-Nya seperti memaknai sifat cinta yang ditetapkan Allah bagi diri-Nya sendiri dengan arti iradatul lit tatswib (keinginan untuk memberi pahala). Orang yang menafikan nama dan sifat-Nya beralasan jika kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah, maka hal ini akan berkonsekuensi menyerupakan-Nya dengan makhluk karena makhluk pun memiliki cinta. Hal ini tidak tepat dengan alasan bahwa Allah ta’ala telah menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan di sisi lain Dia menetapkan bahwa Dia memiliki sifat. Lihatlah surat Asy Syuura ayat 11 di atas! Allahta’ala menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, namun Dia juga menetapkan bahwa Dia memiliki sifat mendengar dan melihat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.  Penetapan sifat bagi Allah meskipun memiliki nama yang sama dengan sifat makhluk tidak berkonsekuensi menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Perhatikan kembali perkataan Nu’aim bin Hammad Al Khaza’i, guru imam Al Bukhari Jilani yang dibawakan oleh imam Ibnu Katsir atau kaidah yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani di atas!
3.     Menetapkan suatu kaifiyah (bentuk/cara) bagi sifat Allah ta’ala. Hal ini dinamakan dengan takyif dan termasuk ke dalam bentuk ini adalah mempertanyakan hakikat dan kaifiyah sifat Allah ta’ala. Contoh praktisnya semisal perkataan, “Tangan Allah itu panjang dan besarnya sekian”. Hal ini salah satu bentuk kelancangan terhadap-Nya karena berkata-kata mengenai Allah ta’ala tanpa dilandasi dengan ilmu. Ketika hakikat dan bentuk Zat Allah saja tidak kita ketahui, maka bagaimana bisa kita lancang menetapkan sifat Allah bentuknya begini dan begitu?!


Membebaskan diri untuk Menuju Ma’rifatullah

1.     Bebaskan Diri dari Kesombongan
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alas an yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya, dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat KAmi dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS Al-A’raaf: 146)
2.     Bebaskna Diri dari Kedzaliman dan Dusta
“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. Ash-Shaf:7)
“sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az-Zumar:3)
3.     Bebaskan Diri dari Tindakan Merusak di Muka Bumi, Melanggar Perjanjian dan Memutuskan Hubungan yang Seharusnya Disambung
“Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al-Baqarah:26-27)
4.     Bebaskan Diri dari Kelalaian
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.” (QS Muhammad:36)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang –orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran:190-191)
5.     Bebaskan Diri dari Perbuatan Dosa
“Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir), mereka tidak beriman kepadanya (Alquran) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu.” (QS. Al-Hijr:12-13)
6.     Bebaskan Diri dari Keraguan dalam Menerima Kebenaran , Saat Melihatnya dengan Amat Jelas
“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Alquran) pada permulaannya, dan Kami biarkanmereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Qs. Al-An’am:110)

Pandangan orang-Orang Kafir Terhadap Jalan Ini
            Banyak orang baik pada masa lalu maupun pada masa kini, yang mengingkari wujud Allah, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat merasakan keberadaan-Nya dengan indera mereka. Mereka berpendapat bahwa jalan untuk mengetahui segala sesuatu adalah indera itu. Karena itu, mereka menuduh orang yang beriman kepada Allah sebagai pengkhayal, sesat, pembuat klenik, sakit jiwa, tidak ilmiah, dan tuduh-tuduhan lainnya yang dialamatkan oleh orang-orang kafir terhadap kaum beriman. Dengan alasan, orang-orang yang beriman itu mengimani wujud Allah bukan dengan jalan inderawi.
Mereka yang berkata bahwa mereka hanya mengimani apa yang dapat ditangkap oleh indera mereka, terbantah sendiri oleh realitas material tempat mereka hidup. Misalnya, mereka mengimani adanya kekuatan gravitasi dan hukumnya meskipun mereka tidak melihat keberadaannya secara inderawi. Mereka mengimani keberadaan rasio meskipun mereka tidak dapat melihat wujudnya.

Wallahu a’lam..


Daftar Pustaka

Hawwa, Sa’id.----. Ma’rifat Dzat Ilahiyah. Bandung: Pustaka Lingkar Studi Islam Ad-Difaa’.
Mujahid, Abu. 2007. Ma’rifatullah Puncak Akidah Islam. http://almanaar.wordpress.com/2007/10/24/marifatullah-puncak-akidah-islam/  di akses 11 November 2011 pukul  23.57 wib
Muslim, Muhammad Nur Ichwan. 2009. Urgensi dan Kesalahan dalam Ma’rifatullah. http://buletin.muslim.or.id/manhaj/urgensi-dan-kesalahan-dalam-marifatullah  di akses 18-11-2011  pukul 06.32 wib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar