Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penemuan Sabun Dalam Sejarah Islam


Salah satu penemuan penting yang dicapai umat Islam di era keemasan adalah sabun. Sejak abad ke-7 M, umat Muslim telah mengembangkan sebuah gaya hidup higienis yang mutakhir. Menurut Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya berjudul, Technology Transfer in the Chemical Industries, kota-kota Islam seperti Nablus (Palestina), Kufah (Irak), dan Basrah (Irak) telah menjadi pusat industri sabun.

“Sabun yang kita kenal hari ini adalah warisan dari peradaban Islam,” papar Al-Hassan. Menurut Al-Hassan, sabun yang terbuat dari minyak sayuran, seperti minyak zaitun serta minyak aroma, pertama kali diproduksi para kimiawan Muslim di era kekhalifahan. Salah seorang sarjana Muslim yang telah mampu menciptakan formula sabun adalah Al-Razi–kimiawan legendaris dari Persia.

“Hingga kini, formula untuk membuat sabun tak pernah berubah,” cetus Al-Hassan. Sabun yang dibuat umat Muslim di zaman kejayaan sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Selain itu, ada sabun cair dan ada pula sabun batangan. Bahkan, pada masa itu sudah tercipta sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut.

Harga sabun pada 981 M berkisar tiga Dirham (koin perak) atau setara 0,3 Dinar (koin emas). Resep pembuatan sabun di dunia Islam juga telah ditulis seorang dokter terkemuka dari Andalusia–Spanyol Islam–bernama Abu Al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcassis (936-1013 M). Ahli kosmetik ini memaparkan tata cara membuat sabun dalam kitabnya yang monumental bertajuk, Al-Tasreef. Al-Tasreef merupakan ensiklopedia kedokteran yang terdiri atas 30 volume. Kitab itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai buku referensi utama di sejumlah universitas Eropa terkemuka. Sang dokter memaparkan resep-resep pembuatan beragam alat kosmetik pada volume ke-19 dalam kitab Al-Tasreef.

Selain itu, resep pembuatan sabun yang lengkap tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 M. Manuskrip itu memaparkan secara jelas dan detail tata cara pembuatan sabun. Fakta ini menunjukkan betapa dunia Islam telah jauh lebih maju dibandingkan peradaban Barat. Masyarakat Barat, khususnya Eropa, diperkirakan baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M.

Namun, Sherwood Taylor (1957) dalam bukunya berjudul, A History of Industrial Chemistry, menyatakan, peradaban Barat baru menguasai pembuatan sabun pada abad ke-18 M. Sejatinya, menurut RJ Forbes (1965) dalam bukunya bertajuk, Studies in Ancient Technology, campuran yang mengandung sabun telah digunakan di Mesopotamia.

“Mereka belum mengenal sabun, tapi beberapa deterjen telah digunakan,” ungkap Forbes. Menurut dia, dunia klasik belum memiliki deterjen yang lebih baik. Penemuan sabun yang tergolong modern memang baru diciptakan pada masa kejayaan Islam.

Sejarah pembuatan sabun di dunia Islam dicatat secara baik oleh Raja Al- Muzaffar Yusuf ibn `Umar ibn `Ali ibn Rasul ( wafat 1294 M). Dia adalah seorang Raja Yaman yang berasal dari Dinasti Bani Rasul yang kedua. Raja Al-Muzaffar merupakan seorang penguasa yang senang mempelajari karya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran, farmakologi, pertanian, dan tekonologi.

Raja Al-Muzaffar juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa kekuasaannya di abad ke-13 M, ia mendukung dan melindungi para ilmuwan dan seniman untuk berkreasi dan berinovasi. Dalam risalahnya, sang raja mengisahkan bahwa Suriah sangat dikenal sebagai penghasil sabun keras yang biasa digunakan untuk keperluan di toilet.

N Elisseeff dalam artikelnya berjudul, Qasr al-Hayr al-Sharqi, yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam volume IV menyatakan, para arkeolog menemukan bukti pembuatan sabun dari abad ke-8 M. Saat itu, kekhalifahan Islam sedang menjadi salah satu penguasa dunia.

Geografer Muslim kelahiran Yerusalem, Al-Maqdisi, dalam risalahnya berjudul, Ahsan al-Taqasim fi ma`rifat al-aqalim, juga telah mengungkapkan kemajuan industri sabun di dunia Islam. Menurut Al-Maqdisi, pada abad ke-10, Kota Nablus (Palestina) sangat termasyhur sebagai sentra industri sabun. Sabun buatan Nablus telah diekspor ke berbagai kota Islam.

Menurut Al-Maqdisi, sabun juga telah dibuat kota-kota lain di kawasan Mediterania, termasuk di Spanyol Islam. Andalusia dikenal sebagai penghasil sabun berbahan minyak zaitun. M Shatzmiller dalam tulisannya bertajuk, al-Muwahhidun, yang tertulis dalam Ensiklopedia Islam terbitan Brill Leiden, juga mengungkapkan betapa pesatnya industri sabun berkembang di dunia Islam. “Pada 1200 M, di Kota Fez (Maroko) saja terdapat 27 pabrik sabun,” papar Shatzmiller.

Sherwood Taylor, dalam Medieval Trade in the Mediterranean World menyebutkan, pada abad ke-13 M, sabun batangan buatan kota-kota Islam di kawasan Mediterania telah diekspor ke Eropa. Pengiriman sabun dari dunia Islam ke Eropa, papar Taylor, melewati Alps ke Eropa utara lewat Italia.
Selain sabun, dunia Islam pun telah menggenggam teknologi pembuatan beragam alat kosmetik. Salah satunya adalah parfum. Umat Islam di zaman kekhalifahan juga telah mengembangkan teknologi pembuatan parfum hingga menjadi sebuah industri yang sangat besar.

Para sejarawan meyakini bahwa fondasi industri minyak wangi yang berkembang pesat di dunia Islam dibangun oleh dua ahli kimia termasyhur, yakni Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M) serta Al-Kindi (805-873 M). Kimiawan Muslim dari abad ke-12, Al-Isybili, mengungkapkan, pada masa kejayaan Islam terdapat tak kurang dari sembilan buku teknis dan pedoman bagi pengelola industri parfum.

Meski begitu, kitab tentang pengolahan minyak wangi atau parfum yang masih tersisa hanyalah Kitab Kimiya’ al-’Itr (Book of the Chemistry of Perfume and Distillations) karya Al-Kindi. Jauh sebelum Al-Kindi, pengembangan industri parfum di dunia Islam juga sempat dilakukan ‘Bapak Kimia Modern’ Jabir Ibnu Hayyan. Ia mengembangkan beberapa teknik, termasuk penyulingan (distilasi), penguapan (evaporation), dan penyaringan (filtrasi). Ketiga teknik itu mampu mengambil aroma wewangian dari tumbuhan dan bunga dalam bentuk air atau minyak.

Teknik dan metode dasar yang diletakkan oleh Jabir itu dikembangkan Al-Kindi. Ia melakukan riset dan eksperimen dengan lebih cermat. Al-Kindi mencoba mengombinasikan beragam tanaman dan bahan-bahan lain untuk memproduksi beragam jenis parfum dan minyak wangi. Ilmuwan Muslim asal Kufah, Irak, itu pun berhasil menemukan tak kurang dari 107 metode dan resep untuk membuat parfum serta peralatan pembuatannya.

Begitulah, dunia Islam di era keemasan telah mampu mengembangkan industri sabun dan juga parfum. 

Resep Sabun Warisan Peradaban Islam

Minyak zaitun dan al-Qali merupakan bahan utama pembuatan sabun. Bahan lain yang kerap digunakan untuk membuat sabun adalah natrun. Lalu, bagaimana proses pembuatan sabun dilakukan di dunia Islam pada abad ke-13 M? Berikut ini resep pembuatan sabun yang ditulis Daud Al-Antaki seperti dikutip Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology: An Illustrated History:

Inilah cara membuat sabun yang diwariskan peradaban Islam:

Ambil satu bagian al-Qali dan setengah bagian kapur. Giling dengan baik, kemudian tempatkan dalam sebuah tangki. Tuangkan air sebanyak lima bagian dan aduk selama dua jam. Tangki dilengkapi lubang bersumbat. Setelah pengadukan berhenti dan cairan menjadi jernih, lubang ini dibuka.

Jika air sudah habis, sumbat kembali lubang tersebut, tuangkan air dan aduk, kosongkan dan seterusnya sampai tak ada lagi air yang tersisa. Faksi air di setiap periode dipisahkan. Lalu, minyak yang sudah murni diambil sebanyak 10 kali jumlah air yang pertama tadi, lalu letakkan di atas api. Jika sudah mendidih, tambahkan air faksi terakhir sedikit demi sedikit. Kemudian tambah dengan air faksi nomor dua terakhir, sampai air faksi pertama.

Dari proses itu, akan diperoleh campuran seperti adonan kue. Adonan ini disendok (dan disebarkan) di atas semacam tikar hingga kering sebagian. Kemudian, tempatkan dalam nura (kapur mati). Inilah hasil akhir dan tidak diperlukan lagi pendinginan atau pencucian dengan air dingin selama proses.

Ada kalanya ditambahkan garam ke dalam al-Qali dan kapur sebanyak setengah kali jumlah kapur. Selain itu, juga ditambhakan amilum tepat sebelum proses selesai. Minyak di sini dapat diganti dengan minyak lain dan lemak seperti minyak carthamus.

Itulah salah satu resep pembuatan sabun yang berkembang di dunia Islam. Sejatinya, masih banyak risalah lain yang mengungkapkan formula pembuatan sabun. Salah satunya adalah buah pikir Al-Razi.

sumber: http://adrianacute.wordpress.com/

Kamis, 19 Mei 2011

Dwarfism may stymie diseases of old age

A mutation in a pathway linked to ageing causes dwarfism, but may protect against cancer and diabetes.

A group of people with dwarfism living in southern Ecuador may hold a genetic secret to healthy ageing, according to a study published today in Science Translational Medicine1.
The Ecuadorians in the study, who have a condition called Laron syndrome caused by a mutation in the growth hormone receptor (GHR) gene, almost never develop cancer or diabetes. Moreover, the mutation seems to trigger a molecular pathway that protects against cell damage and boosts longevity in yeast, worms and mice.

"Almost everything we found in those hundred people and their ancestors, others have shown in mice," says Valter Longo, a molecular geneticist at the University of Southern California, Los Angeles, who led the study.
Longo was eager to test whether a nutrient-sensing and growth pathway that has been linked to ageing in lab organisms such as yeast and mice had a similar role in humans.

The search led Longo to Jaime Guevara-Aguirre, an endocrinologist at the Institute of Endocrinology, Metabolism and Reproduction in Quito, Ecuador. For the past 22 years, Guevara-Aguirre has been tracking the health of 99 individuals with dwarfism, as well as 1,600 of their relatives who lack the mutation in GHR.
Those with the mutation are between about 1 and 1.2 metres tall, owing to their bodies' limited ability to use growth hormone. Compared with relatives without the mutation, their blood contains lower levels of the protein insulin-like growth factor I (IGF-I), which is central to ageing.

Of the 99 people with Laron syndrome in the study, 9 have died. None of them — nor 53 of their relatives with the condition who died before the study began — died of cancer or complications of type 2 diabetes. Only one patient developed cancer — a woman had an ovarian tumour removed in 2008 and has remained cancer-free since. Meanwhile, cancer caused 20% of deaths in relatives without the mutation and type 2 diabetes caused another 5%.

No extended life

But unlike lab organisms with mutations in the IGF-I pathway, such as "Dwarf" mice that live up to 50% longer than normal mice, the Ecuadorians with the GHR mutation did not live any longer than their unaffected relatives. Instead, they were more likely to die of accidents, alcohol-related causes and convulsive disorders such as epilepsy, Longo and his team found.

"We were very disappointed," says Longo. "We were hoping at least to see something like 10%. That may very well be there. They were just born with this problem and they seem to die of all these strange causes."
At the molecular level, however, their blood showed many of the hallmarks of ageing protection seen in other organisms with reduced IGF-I activity. When incubated with cultured human cells, their blood was better at protecting cells from cancer-causing DNA-strand breaks than the blood of relatives that lacked the GHR mutation.

These results support the idea that defects in nutrient-sensing pathways such as IGF-I encourage cells to protect themselves and their DNA, rather than to grow and divide, says Longo. Such cues could also explain why the Ecuadorians with dwarfism rarely develop cancer or diabetes.

However, it is not clear whether they are protected from ageing in general or just from particular diseases, says Matt Kaeberlein, a biochemist at the University of Washington in Seattle. "I don't think we know the answer, but the data are suggesting that this may be influencing several of the processes associated with ageing."

Brian Kennedy, head of the Buck Institute for Research on Aging in Novato, California, says that the study underscores the IGF-I pathway as a target for therapies that prevent age-related diseases. "This is even more evidence that this is a great place to be looking."

Longo suggests that blocking growth hormone and IGF-I signals later in life could protect against age-related disease, without affecting normal growth. However, Kaeberlein says that it is still not clear whether the disease-protection effects seen in the Ecuadorians with dwarfism are due to effects early in life, late in life — or both. "There's lots of important information still to be learned here," he says. 


References:
Guevara-Aguirre, J. et al. Sci. Transl. Med. 70, 70ra13 (2011).
http://www.nature.com/

Sabtu, 12 Februari 2011

Sejarah Penciptaan Lilin

Lilin diciptakan secara independen di banyak negara. Orang Mesir dan Kreta membuat lilin dari lilin lebah, sekitar 3000 SM. Pada abad keempat SM ada pemegang lilin tanah liat di Mesir. Qui Shi Huang (259-210 SM) adalah Kaisar pertama dari Dinasti Qin (221-206 SM). Makam-Nya ditemukan kembali pada 1990-an 22 mil timur Xi'an di Cina dan berisi lilin dibuat dari lemak ikan paus.
Pada awal Cina dan Jepang mengecil dibuat dengan lilin dari serangga dan biji-bijian, dibungkus kertas. Lilin dari merebus kayu manis digunakan untuk lilin candi di India. Ada ikan yang disebut "berbau" atau candlefish, ditemukan dari Oregon ke Alaska.
Selama abad pertama Masehi asli Amerika menggunakan minyak dari ikan ini. Mereka meletakkannya di tongkat bercabang kemudian menyalakannya. Penggalian di Pompei menemukan beberapa lilin. Kata Latin "candere" berarti berkedip. Yak mentega digunakan untuk lilin di Tibet. Di Eropa awal yang masih bertahan lilin itu ditemukan di dekat Avignon di Perancis, dari abad pertama Masehi.
Dalam 848 King Alfred menggunakan lilin-jam yang dibakar selama 4 jam. Ada garis di samping untuk menunjukkan berlalunya setiap jam. Kemudian, ada 24-jam lilin. Dinasti Song di Cina (960 - 1279) juga digunakan lilin-jam. Pada abad ke-18, Cina menempatkan beban ke dalam sisi.
Seperti lilin meleleh, bobot jatuh dan mengeluarkan suara ketika mereka jatuh ke dalam mangkuk. Suatu bentuk lilin-jam digunakan di pertambangan batu bara hingga abad kedua puluh. Novel "Anthem" oleh Ayn Rand berisi adegan dalam bab VII, di mana terdapat sebuah lukisan yang menunjukkan "dua puluh orang yang menemukan lilin". Ini hanya dapat berkhayal.

Abad Pertengahan

Selama abad pertengahan, popularitas lilin ditunjukkan oleh penggunaannya dalam Candlemas dan di Saint Lucy perayaan. Lemak, lemak dari sapi atau domba, menjadi bahan yang digunakan dalam standar lilin di Eropa. Perusahaan Chandler yang lemak London dibentuk pada sekitar 1300 di London, dan di 1456 ini diberi lambang. By 1415 tallow lilin digunakan dalam penerangan jalan. Perdagangan dari pedagang lilin juga dicatat oleh nama yang lebih indah dari "smeremongere", karena mereka mengawasi pembuatan saus, cuka, sabun dan keju.
Bau yang tidak menyenangkan lemak lilin adalah gliserin karena di dalamnya. Bagi gereja-gereja dan kerajaan peristiwa, lilin dari lilin lebah digunakan, seperti bau biasanya kurang menyenangkan. Dating dari sekitar 1330, yang Wax Chandler diperoleh Perusahaan piagam pada 1484.
Cetakan lilin pertama berasal dari abad ke-15 Paris. Bau proses manufaktur sangat tidak menyenangkan itu dilarang oleh persenjataan di beberapa kota. Koloni Amerika pertama menemukan bahwa bayberries dapat digunakan untuk membuat lilin, tapi hasil itu sangat miskin. 15 £ rebus bayberries hanya akan menyediakan £ 1 lilin.

jenis minyak baru

Spermaceti adalah minyak yang berasal dari sperma ikan paus. Dari sekitar 1.750 itu digunakan untuk menyediakan lilin sangat mahal. Dengan 1800 yang lebih murah dan alternatif ditemukan. Brassica campestris berasal dari benih perkosaan. Itu colza menghasilkan minyak. Ini adalah lilin terbaik belum, jelas menghasilkan nyala api. Ahli kimia Perancis Michel-Eugene Chevreul (1786 - 1899) dan Joseph-Louis Gay-Lussac (1788 - 1850) dipatenkan stearin, pada tahun 1811.
Seperti lemak, ini berasal dari hewan, tetapi tidak memiliki konten gliserin. Joseph Sampson memiliki paten kedua yang pernah diberikan di Amerika Serikat. Itu untuk metode baru pembuatan lilin tahun 1790. Pada tahun 1806, William Colgate (1783 - 1857) (kemudian terkenal karena "Sabun dan Perfumery Works") mendirikan pabrik lemak di New York. Pada 1847 ia telah beralih untuk membuat sabun. Tampaknya ada komponen etis banyak abad kesembilan belas pabrik sabun dan lilin, seperti Colgate menjadi terlibat dengan Alkitab Societies.
James Wilson dari Lilin Price juga khawatir tentang mempromosikan Kristen, dan menghapuskan perbudakan. Setelah kekalahan Napoleon di Waterloo, ada perayaan tarian di seluruh Eropa. Kadang-kadang dikatakan bahwa lebih banyak lilin-lilin yang dibakar pada tahun 1815 daripada di tahun sebelumnya atau sejak. Pada tahun 1834 Joseph Morgan mulai industrialise produksi lilin. Ia menemukan sebuah mesin untuk memproduksi 1.500 per jam, dari cetakan.

Parafin dan minyak sawit

Parafin adalah hidrokarbon yang licin, tanpa bau. Seorang ahli kimia bernama Laurent suling dari schist tahun 1830, dan kimia lain Dumas, diperoleh dari ter batu bara pada tahun 1835.
Tidak sampai 1850 berhasil menjadi komersial, ketika James Young mengajukan paten untuk menghasilkan dari batubara. Ini adalah pukulan besar bagi industri lilin. Dari titik ini, lilin menjadi lebih dari barang dekoratif. Tahun 1829, William Wilson dari Lilin Price diinvestasikan dalam 1.000 hektar perkebunan kelapa di Sri Lanka.
Tujuannya adalah untuk membuat lilin dari minyak kelapa. Kemudian ia mencoba minyak kelapa sawit dari pohon-pohon palem, tapi penemuan yang kebetulan menyapu semua samping ini. Kakaknya George Wilson distilasi pertama minyak bumi di Burma pada 1854. By 1922 Lever Brothers telah membeli Harga Lilin dan pada tahun 1922 sebuah perusahaan milik bersama yang disebut "Lilin Ltd" telah dibuat. Pemilik tiga hari ini lebih dikenal sebagai Shell Oil Company, BP dan Burmah Oil. Pada 1991, pemilik sisa terakhir "Lilin Ltd" adalah Shell, yang menjual lilin pembuatan bagian dari bisnis.

Produsen lilin yang tertua yang masih ada adalah Rathbornes Lilin, didirikan di Dublin pada 1488.

http://www.features.dnaberita.com/

Jumat, 11 Februari 2011

Saintis Biologi

Ernest Haeckel

Ernst Heinrich Philipp August Haeckel
(16 Februari 18349 Agustus 1919) ditulis juga von Haeckel, merupakan ahli biologi ternama dari Jerman, seorang naturalis, filsuf, dokter, profesor dan seniman, yang menemukan, menjelaskan, dan menamakan ribuan spesies baru, membuat peta pohon genealogi hubungan semua makhluk hidup, dan membuat istilah biologi baru, seperti filum, filogeni, ekologi, dan kingdom Protista. Haeckel menyebarluaskan karya Charles Darwin di Jerman, dan mengembangkan teori rekapitulasi yang kontroversial.
 Barbara Mc Clintock


Pada saat mempelajari pewarisan sifat pada tanaman jagung pada 1940-an, Barbara McClintock mendapati unsur genetik tertentu (segmen DNA) yang dapat bergerak pada satu lokasi kromosom. Gerak gen dari satu kromosom ke kromosom lain ini dikenal sebagai “transposon”. Gen-gen ini dapat mengacaukan, contohnya pada jagung india, transposon mengacaukan gen-gen pigmen dalam sel sehingga dihasilkan biji berbintik-bintik. Setelah tahun 70-an, trasposon ditemukan dalam E. coli dan era rekombinasi DNA dimulai. Pada tahun 1983, beliau menerima hadiah nobel untuk hasil kerjanya.

Beberapa bukti terakhir menunjukkan bahwa semua organisme yang sama dengan prokariota dan eukariota mempunyai trasposon. Ahli biologi lain telah menemukan transposon kopi dan tempel, yang menginggalkan kopian asli di belakang ketika bergerak. Jenis trasposon ini bertanggung jawab pada  proliferasi penanggulangan kacau DNA pada genom manusia. Transposon bereaksi dengan mutagen alami. Berkat penemuan beliau, transposon-transposon tersebut kini dapat membantu menimbulkan keanekaragaman genetik, merupakan faktor penting evolusi, bahan, transposon telah berimplikasi dalam penanganan beberapa kasus kanker. Barbara McClintock adalah salah satu ahli biologi terbaik pada abad ke-20 ini.
S.A Waksman
Selman Abraham Waksman ialah biokimiawan Amerika Serikat kelahiran Ukraina yang memenangkan Penghargaan Nobel Kedokteran pada 1952 atas penelitiannya mengenai streptomisin. Pada 1910, ia memperoleh diploma matrikulasinya dari Gymnasium Kelima di Odessa, Imperium Rusia. Setelah lulus, ia berimigrasi ke Amerika Serikat, di mana ia lulus dari Universitas Rutgers pada 1915 dengan gelar S.Si. dalam pertanian. Dia mengadakan penelitian dalam bakteriologi tanah di bawah Dr. J.G. Lipman di Stasiun Penelitian Pertanian New Jersey sebelum dianugerahi gelar M.Si. pada 1916
Di tahun yang sama Waksman menjadi warganegara yang dinaturalisasikan dan diangkat sebagai anggota peneliti di Universitas California, Berkeley di mana ia menerima Ph.D.-nya dalam biokimia pada 1918. Ia kemudian bergabung dengan fakultas itu di Bagian Biokimia dan Mikrobiologi; ia diangkat sebagai lektor kepala pada 1925 dan guru besar pada 1930. Pada 1940, ia menjadi Profesor dan KaBag Mikrobiologi. Di Rutgers-lah Waksman menemukan beberapa antibiotika, termasuk streptomisin pada 1943, dan neomisin pada 1948. Pada 1949, Waksman menjadi direktur Lembaga Mikrobiologi, berhenti dari jabatan itu pada 1958. Beberapa studi Waksman termasuk populasi mikrobiologis tanah, penguraian sisa tanaman dan hewan, dan pembentukan bakteri di laut dan perannya dalam biologi kelautan. Waksman juga bekas pimpinan Kelompok Mikrobiologi Amerika. Ia telah menerbitkan lebih dari 400 karya ilmiah dan 18 buku. 3 dari buku Waksman termasuk: Enzymes (1926), Principles of Soil Microbiology (1938), dan sebuah otobiografi My Life with the Microbes (1954).
Susumu Tonegawa
Susumu Tonegawa lahir di Nagoya, Jepang dan masuk ke Sekolah Tinggi Hibiya, Tokyo. Ia menerima gelar sarjana dari Universitas Kyoto pada tahun 1963. Ia menerima gelar doktor dari Universitas California, San Diego. Ia mengerjakan karya pascadoktoral di Salk Institute, San Diego, di laboratorium Renato Dulbecco, lalu bekerja di Lembaga Imunologi Basel, Basel, Swiss, di mana ia mengerjakan eksperimen imunologi. Pada tahun 1981, ia menjadi profesor di Institut Teknologi Massachusetts, mendirikan dan memimpin Picower Institute for Learning and Memory, MIT.

Ilmuwan Jepang yang memenangkan Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1987 untuk "penemuannya atas asas genetika untuk pembangkitan ragam antibodi." Meski memenangkan Hadiah Nobel untuk karyanya dalam imunologi, Tonegawa ialah seorang biolog molekuler yang dilatih. Di tahun-tahun terakhir, ia banting minat ke basis molekuler dan selular atas pembentukan memori.
Tonegawa terkenal karena menjelaskan mekanisme genetika dalam sistem kekebalan tiruan. Untuk mencapai keragaman antibodi yang diperlukan untuk melindungi terhadap tiap jenis antigen, sistem kekebalan akan memerlukan jutaan pengkodean gen untuk antibodi-antibodi yang berbeda, jika setiap antibodi dikodekan oleh 1 gen. Sebagai gantinya, seperti yang ditunjukkan Tonegawa dalam serangkaian penelitian yang berawal pada tahun 1976, materi genetik dapat menyusun diri untuk membentuk kesatuan luas antibodi yang tersedia. Membandungkan DNA sel B (sejenis sel darah putih) pada anak tikus dan tikus dewasa, ia mengamati bahwa gen dalam sel B dewasa pada tikus dewasa dipindahkan ke sekeliling, direkombinasi, dan dihilangkan untuk membentuk keragaman kawasan antibodi yang tersedia.
Ian Wilmut


Ian wilmut lahir pada tanggal 7 Juli 1944 di Hampton Lucey, Inggris. Wilmut dan timnya adalah yang pertama melakukan cloning terhadap mamalia menggunakan sel dewasa. Hasilnya adalah Dolly, doma finn dorset berjenis kelamin betina yang berasal dari sel domba dewasa.

Keberhasilan cloning ini mengejutkan kalangan ilmuwan dan mengundang perdebatan public mengenai etika dan tujuan percobaan tersebut. Diluar segala kontroversi tersebut, Wilmut adalah tokoh yang berhasil membuktikan bahwa pada dasarnya semua sel dapat digunakan untuk menghasilkan klona.
Robert Koch
Heinrich Hermann Robert Koch adalah seorang dokter Jerman. Dia menjadi terkenal setelah penemuan anthrax bacillus (1877), tubercle bacillus (1882), dan kolera bacillus (1883) dan pengembangan postulat Koch. Dia diberikan Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada 1905 dan dianggap sebagai pendiri bakteriologi.

Pada 1883, Koch bekerja dengan tim riset dari Prancis di Alexandria, Mesir, mempelajari kolera. Koch mengidentifikasi bakterium vibrio yang menyebabkan kolera, meskipun dia tidak pernah membuktikannya dalam eksperimen. Pada 1885, dia menjadi profesor higinitas di Universitas Berlin, dan kemudian, pada 1891, direktur di Institut Penyakit Menular (Institute of Infectious Diseases) yang baru didirikan, dia mundur dari posisi tersebut pada 1904. Dia kemudian mulai berkeliling dunia, mempelajari penyakit ini di Afrika Selatan, India, dan Jawa.
Kemungkinan sama pentingnya dengan penemuan tuberkolosis yang membuatnya dihargai penghargaan Nobel, adalah Postulat Koch, yang menyatakan bahwa untuk menandakan sebuah organisme sebagai penyebab penyakit, dia harus:
  • ditemukan dalam seluruh kasus penyakit yang diperiksa
  • dipersiapkan dan mempertahankan dalam culture murni.
  • mampu memproduksi infeksi asal, meskipn setelah beberapa generasi dalam culture
  • dapat diambil dari hewan terinokulasi dan di"culture" lagi.
Tapi setelah kesuksesannya kualitas dari risetnya menurun (terutama setelah kegagalan obat penyembuhan TBC-nya tuberculin), meskipun muridnya yang menggunakan metodenya berhasil menemukan organisme yang bertanggung jawab atas diphtheria, typhoid, pneumonia, gonorrhoea, cerebrospinal meningitis, leprosi, wabah bubonik, tetanus, dan syphilis.
Scott Sherrington

Sir Charles Scott Sherrington
(Islington, London, 27 November 1857 - Eastbourne, 4 Maret 1952) ialah seorang fisiolog saraf, histolog, bakteriolog, dan patolog Inggris. Belajar kedokteran di Universitas Cambridge, ia lulus pada tahun 1885. Kemudian ia melanjutkan studinya di Berlin bersama dengan Robert Koch dan Rudolf Virchow lalu ke Straßburg di bawah F. Goltz. Pada tahun 1876 Sherrington bergabung dengan St. Thomas Hospital, menjadi "murid abadi". Kemudian ia meninggalkannya untuk mengerjakan penelitian di Brown Institution, bagian kedokteran hewan di Universitas London. pada tahun 1895, ia diangkat sebagai profesor di Universitas Liverpool. Lalu ia menjadi guru besar fisiologi di Universitas Oxford pada tahun 1913. Ia menjadi Presiden Royal Society antara tahun 1920-1925. Sherrington menerima Knight Grand Cross Britania Raya pada tahun 1922 dan Order of Merit pada tahun 1924. Ia pensiun dari kehidupan akademik pada tahun 1936. Pada tahun 1932, ia dianugerahi Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran untuk karyanya di bidang neurofisiologi: lokalisasi fungsi korteks serebri, penelitian refleksologi, dll.
 Charles Robert Richet

Charles Robert Richet (lahir di Paris, 25 Agustus 1850 – meninggal 4 Desember 1935 pada umur 85 tahun) adalah seorang ahli ilmu faal Perancis yang memulai berbagai penelitian seperti neurokimia (kimia saraf), hal pencernaan, regulasi suhu pada hewan berdarah panas atau homeotermis. Ia diberi gelar profesor di bidang ilmu faal oleh Collège de France pada tahun 1887 dan menjadi anggota Académie de Médecine pada 1898. Pada 1914, ia bergabung dengan Académie des Sciences.








Charles Louis Alphonse Laveran
Charles Louis Alphonse Laveran (18 Juni 1845 - 18 Mei 1922) adalah seorang ahli patolog, dan parasitolog asal Prancis yang menemukan parasit penyebab malaria pada manusia. Untuk ini dan pekerjaan pada penyakit protozoa ia menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1907.

Menamatkan pendidikan di fakultas kedokteran Strasbourg, ia menjadi dokter bedah selama Perang Perancis-Prusia (1870-1871) dan mempraktekkan dan mengajarkan militer pengobatan sampai 1897, di mana ia menjadi anggota Institut Pasteur, Paris. Selama menjadi dokter bedah militer di Aljazair pada 1880, Laveran menemukan penyebab malaria dalam otopsi yang diadakannya pada korban malaria. Ia menemukan organisme kausatif menjadi protozoa yang dinamainya Oscillaria malariae, meski namanya kemudian diganti Plasmodium.
Laveran memiliki pengaruh kuat dalam pengembangan penelitian dalam ilmu kedokteran tropis, mengadakan kerja yang berhasil pada tripanosomiasis, leishmaniasis, dan penyakit protozoa lainnya, sebagaimana pekerjaan pentingnya pada malaria. Ia mendirikan Laboratorium Penyakit Tropis di Institut Pasteur (1907) dan Societe de Pathologie Exotique (1908).
Hasil karya tulisan Laveran termasuk Trypanosomes et trypanosomiasis (dengan Felix Masnil; 1904); Traite des fievres palustres avec la description des microbes du paludisme (1884); dan Traite des maladies et epidemies des armees (1875).
 Alfred Russel Wallace
Dikenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, pengembara, ahli antropologi dan ahli biologi dari Britania Raya. Ia terkenal sebagai orang yang mengusulkan sebuah teori tentang seleksi alam, dimana kemudian hari malah membuat Charles Darwin lebih terkenal dari dia dengan teorinya sendiri.

Dia banyak melakukan penelitian lapangan, di sungai Amazon di tahun 1846 saat ia masih berusia 23 tahun dan kemudian di Kepulauan Nusantara. Pada perjalanan antara tahun 1848 hingga tahun 1854, Ia tiba di Singapura. Selama delapan tahun kemudian (1854 - 1862)ia menjelajah berbagai wilayah di Nusantara. Dari penjelajahan itu, ia membukukannya ke dalam sebuah catatan yang berjudul The Malay Archipelago

Dalam penjelajahannya di bumi Nusantara ia menemukan sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Garis ini dikemudian hari dikenal sebagai Garis Wallace, dimana di satu bagiannya, bentuk flora dan faunanya masih mempunya hubungan dengan flora dan fauna dari Australia dan memiliki ciri-ciri yang sangat mirip. Sedangkan di bagian yang lainnya sangat mirip dengan flora dan fauna dari Asia. Ia dianggap sebagai ahli terkemuka di abad ke-19 dalam bidang penyebaran spesied binatang dan kadang-kadang dikenal sebagai Bapak dari Biogeografi Evolusi, sebuah kajian tentang spesies apa, tinggal dimana dan mengapa Ia adalah salah seorang dari pemikir revolusioner pada abad ke-19 dan memberikan banyak masukan kepada pembangunan "teori evolusi" selain juga salah seorang penemu dari "teori seleksi alam". Termasuk didalamnya adalah konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna, dan juga "Efek Wallace", sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman fauna.

Surat Wallace dari Ternate kepada Darwin itu kemudian dikenal sebagai Letter from Ternate. Surat itu menjadi terkenal karena disertai makalah yang diberi judul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitelty from the Original Type. Dari makalah itu, Wallace mengemukakan pemikirannya mengenai proses seleksi alam mempertahankan suatu spesies di dunia. Spesies yang mampu bertahan disebut Wallace sebagai hasil kelangsungan yang terbaik atau yang paling memiliki kemampuan bertahan tidak akan punah.
Itulah kerangka dasar pemahaman seleksi alam yang diletakkan Wallace saat itu. Akhirnya pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui bukunya The Origin of Species tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi.
Prof.Dr.dr.Poerwo Soedarmo

Prof. Dr. dr. Poerwo Soedarmo (1904-2003) dikenal sebagai bapak gizi Indonesia. Ia berjasa memperkenalkan dan mengembangkan ilmu gizi di Indonesia. Ia juga pencetus slogan “Empat sehat lima sempurna”.

Poerwo Soedarmo menamatkan pendidikannya di Indisch Arts Stovia, Weltereden (1927), dan Ika Dai Gakko, Jakarta (1941). Setelah bertahun-tahun menjadi dokter umum, ia tertarik untuk mendalami ilmu gizi. Saat itu, ia sedang meneliti penyakit malaria di Post Graduate Institute di London (1949).

Ia kemudian mendalami ilmu gizi di Institute of Nutrition, Menila (1950). Untuk menangani ketertinggalan masalah gizi masyarakat Indonesia, Dr. J. Leimena (menteri kesehatan saat itu) mengangkat Poerwo Soedarmo sebagai kepala lembaga makanan rakyat (1952)


Gabriel Fallopio


Gabriel Fallopio (1523-1562) adalah seorang ahli medis dan anatomi terkenal di abad 16. Selain itu, ia juga memperoleh gelar di bidang botani. Terutama meneliti tentang penyakit di bagian kepala, seperti penyakit di telinga dan kepala. Fallopio juga mempelajari organ-organ seksual pada pria maupun wanita dan mendeskripsikan tuba fallopi. Ia mengusulkan penggunaan kondom setelah melakukan penelitian tentang penyakit sifilis. Bukunya yang berjudul “Anatomy” diterbitkan pada tahun 1561. Kebanyakan karyanya diterbitkan setelah dia tiada.
                          Dr.Karl Landsteiner


Pada tahun 1900, Dr. Karl Landsteiner menemukan berbagai tipe darah manusia. Jika tipe darah yang berbeda dicampurkan, akan terjadi penggumpalan sel darah merah yang dapat menyebabkan kematian saat transfusi.

Pada tahun 1930, beliau mendapatkan hadiah nobel pada bidang kesehatan, atas hasil karyanya dalam menentukan dasar klasifikasi modern darah. Berkat jasanya dalam memberikan kemudahan dalam proses transfusi, angka kematian saat transfusi berlangsung dapat ditekan
Eric Richard Kandel


Eric Richard Kandel (1929), adalah seorang psikiater, ahli syaraf, serta professor biokimia dan biofisika di unifersitas Columbia.dia memenangkan penghargaan nobel untuk risetnya dalam bidang psikologi tentang dasar penyimpangan memori did ala neuson. Ia telah menulis banyak karya tentang psikoanalisis yang dikombinasikan dengan neurobiology. Kandel juga telah membantu menulis buku, misalnya Principles of Neural Science.Kandel menerima gelar kehormatan dari Sembilan universitas dan belasan penghargaan di bidang ilmu saraf, biokimia, dan psikologi.